Pagi
yang cerah menemani aktivitas sepasang suami-istri yang tengah asik menyiapkan
sarapan untuk dua belas putri mereka.
Anak apa kebo? Mulai dari menanak nasi, menumis sayur, menggoreng lauk,
sampai menggiling sambel.
Saat makanan tengah dihidangkan, tiba-tiba pipih anak
kedelapan datang sambil menjerit.
“Bundddaaaaaaa”
“Ada apa sayang? Pagi-pagi kok
teriak-teriak?” Tanya Bunda.
“Kwaciku direbut ama kak shin Bunda…”
adu pipih pada Bunda.
“Loh kenapa di rebut?” Tanya Bunda
lagi. Pipih hanya menggeleng dengan memasang wajah cemberut. “Shiiinnnnn….”
Panggil Bunda pada shin anak ketujuh.
“Iya Bunda..!” jawab shin seraya
menghampiri Bunda, ayah, dan pipih.
“Kamu apain adekmu ini?” Tanya ayah
dengan nada meninggi.
“Minta kwaci aja kok yah..”
“Minta apa ngerebut??” sahut pipih
nyolot.
“Eh, kan tadi kakak mintanya
baik-baik. Kamu aja yang pelit! Coba kalo gak pelit, kakak kan gak bakal
ngerebut dari kamu.” Jawab shin tak ingin mengalah.
Mimih si sulung bersama Mimo, Minnie
dan Mickey yang baru datang langsung duduk lalu mengambil piring dan tidak
ambil pusing akan perdebatan Shin dan Pipih. Diantara anak-anak yang lain,
Mimih, Minnie, dan Mickey adalah anak paling cool dan membosankan. Berbeda
dengan adik-adik mereka yang bandel terutama Shin.
“Masalah kwaci aja heboh.” sela
Minnie lalu meneguk teh hangat.
“Udah lah.., maklum anak kecil.”
Celetuk Mimih seraya mengambil nasi.
“Kalian tuh anak kecil! Bunda ama
ayah belum makan, kalian udah asik sendiri.” Balas Shin membentak kakak-kakaknya.
Mickey tidak terima dikatakan anak
kecil oleh adiknya. Ia memukul meja lalu berdiri, tapi Ayyi datang dan menahan
Mickey. “Sabar bro.., namanya juga preman kafe. ” ledek Ayyi. Mickey pun duduk
kembali.
“Heh, apa maksudmu bilang aku preman
kafe? Ngajak berantem?” gertak Shin pada Ayyi.
“Nah tuh preman pake ngajak-ngajak
berantem.” Ledek Ayyi semakin menjadi.
Mendengar perdebatan anak-anaknya, Bunda
mulai hilang kesabaran dengan tingkah anak-anaknya. “Udaaahhh…., pagi-pagi
jangan ribut! Kalau kalian masih mau ribut, mending gak usah makan semuanya!”
ancam Bunda.
“Eitss.., jangan gitu lah Bunda.
Sabar hadapin anak-anak!” nasehat ayah mengelus punggung Bunda untuk
menenangkan amarah Bunda. “Ayo duduk semua! Kita sarapan..” pinta ayah seraya
duduk. “Oh iya, Shin.., ayo panggil kakakmu bubu sama adek-adek kamu!” perintah
ayah pada Shin.
“Iya ayah..” jawab Shin singkat lalu
beranjak.
“Gitu kek, sekali-kali nurut!” gumam
Mimo.
“Mimooo…” tegur Bunda. Mimo langsung
menunduk.
*****
Usai bersarapan, sepasang
suami-istri mengantarkan anak-anak mereka sampai di depan pintu gerbang rumah.
Mulai dari Mimih yang bersalaman pada ayah dan Bunda untuk berangkat kuliah
kemudian Mimo, Minnie, Mickey, Bubu, Ayyi, dan Shin yang memilih bekerja
setelah lulus sekolah, hingga Pipih, Frilly, Ria, Atan, dan Nichi yang masih
duduk di bangku sekolah menengah atas.
Sosok demi sosok si anak mulai sirna
dari pandangan sepasang suami istri itu. “Heran ya, punya anak kok bandel
semua??” eluh sang Bunda.
“Bandel-bandel gitu juga anakmu.”
Seloroh ayah.
“Anakmu juga, Yah..” sentak Bunda
lalu beranjak.
“Oh iya ya.., kan anakku juga!” ucap
ayah menggaruk-garuk kepala sambil menggeleng pelan.
*****
Jam istirahat Shin akhirnya tiba.
Untuk makan siang, Shin lebih memilih makan di rumah dari pada membeli.
“Hemat.” Begitulah katanya. Entah hemat atau pelit untuk diri sendiri.
“Bunda belum masak, kebetulan ayah
juga udah berangkat kerja satu jam yang lalu. Hanya ada nasi. Jadi lauknya beli
aja di warung depan!” ujar Bunda.
“Gak mau. Mau masak sendiri aja.
Irit!” jawabnya menolak sambil mengambil keranjang yang berisikan bumbu-bumbu
dapur.
Bunda hanya tersenyum melihat
tingkah anaknya. “Ya udah.., Bunda mau tidur dulu.” Ucap Bunda.
“Iya” jawab Shin singkat sebelum
akhirnya Bunda pergi meninggalkan dapur.
Shin pun melanjutkan aktivitasnya.
Mulai dari mengupas bawang, memisahkan ayam dari tulang, lalu menggoreng. Dan selama
menunggu ayam matang, Shin membuat saos favoritnya, saos tiram pedas hasil
eksperimennya sendiri.
Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan masakannya. ‘Ayam
Tepung Saos Tiram’ Begitulah julukan Shin untuk makanannya. Tampak seulas
senyum kepuasan dalam hatinya pada masakannya itu.
“Kakak…” panggil Ria melas.
“Apa?” Tanya Shin singkat.
“Ria laper kak..”
“Ya udah.., makan ama kakak aja. Kakak masak banyak kok! Tapi
saosnya pedas. Mau?” tawar Shin mengangkat alis.
“….” Ria menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.
Tanpa banyak bicara, Shin mengambilkan nasi untuk adiknya dan
tentu saja untuk dirinya juga. Mereka pun makan dengan tenang. Dan disela-sela
ketenangan itu, Atan datang sambil berlarian menghampiri Shin.
“Kak Shin.., aku minta pendapat nih..”
“Apa?” lagi-lagi jawab Shin singkat.
“Dengerin ya..” pinta Atan. “Air mata menyumbat dada sampai aku tenggelam.., berharap kasih kan kembali
menyelam ke dasar paling dalam tuk membawaku pada ke alam tanpa malam yang
kelam .” ucap Atan
akan syair yang dibacanya.
Shin tersenyum lebar. “Kamu lagi sakit hati ya? Ditinggalin
pacar?” Tanya Shin.
“Kok kakak tau sih?” Tanya Atan mengerutkan keningnya.
“Hahahahah…, dari kalimatmu tadi aja udah ketahuan.” Jawab
Shin. “Hari gini galau? Kapan bahagianya?” ledek Shin pada adiknya lalu lanjut
makan.
Atan tersenyum kecil kemudian pergi tanpa berkata apa pun. Ria
yang melihat kepergian Atan, merasa iba. “Kakak apaan sih? Atan kan lagi sedih
kak. Kok malah ditertawain?” tegur Ria. “Tega ihh..” ujar Ria lalu ikut pergi
meninggalkan Shin.
“Loh kok pada cabut sih?” Tanya Shin lirih. “Bodoh ah.. makan
dulu.” Ucap Shin acuh.
“Parah loe! Adek lagi sedih, malah ditertawain.” Seloroh Bubu
yang tiba-tiba datang dan ikut makan.
“Kamu sendiri napa di sini? Bukannya hibur.”
“Makan dulu baru hibur. Hehe…” jawab Bubu tertawa kecil.
“Alesan mulu… huuhhhhh” celetuk Shin.
*****
Senja tiba dan langit semakin gelap.
Masa-masa yang amat Shin sukai, senja. Tiada hari tanpa menikmati senja
baginya. “Aku merasa hidup kala senja
tiba” Begitulah katanya.
“Ngapain itu bocah-bocah? Pasti lagi
gosip!” tebak Shin melihat Frilly, Ria, dan Nichi asik mengobrol. Shin pun
berjalan menghampiri adik-adiknya yang duduk di pekarangan. “Heh, gosip apa
hari ini?”
“Apaan sih kak? Siapa yang gosip
coba?” jawab Ria dengan suara manjanya.
“Iya nih.. datang-datang sok tau.”
Sahut Nichi manyun.
“Terus? Kalo gak gosip ngapain coba
kalian ngobrolnya sambil bisik-bisik?” Tanya Shin ingin tau.
“Tuh liatin Atan. Seharian diem
mulu. Biasanya dia selalu ceria. Gak tau habis kesambet apa kok tiba-tiba
murung.” Jelas Frilly lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Ria. “Kasian ya..”
lanjut Frilly dengan tatapan sendu.
Shin pun melihat Atan yang sedang
duduk seperti patung di pinggir kolam ikan. Melihat situasi seperti itu membuat
Shin merasa bersalah pada adiknya, Atan. Ia menarik nafas panjang lalu berjalan
mendatangi Atan.
“Menurut kamu hidup seperti
ikan-ikan yang di kolam itu asik gak?” Tanya Shin seraya duduk di samping Atan.
“….” Atan menggeleng.
“Kenapa?”
“Gak bebas.”
“Kalo gitu napa kamu menikmati
ketidakbebasan itu?”
Atan langsung menatap Shin karena
tidak mengerti akan ucapan Shin. Shin hanya tersenyum menatap ikan-ikan yang
berenang di kolam tanpa membalas pandangan adiknya.
“Ikan-ikan ini gak bebas karena
dibelenggu. Kalo kamu? Kamu membelenggu dirimu sendiri.” Jelas Shin. Atan
menunduk lalu membuang muka.
“…..”
“Gak satu orang pun yang mau
menderita, tapi di setiap ada masalah mereka lebih banyak menangisi, meratapi,
memohon-mohon, tanpa bertindak. Emangnya masalah bisa kelar kalau didiemin? Gak
kan??” ujar Shin dengan bijak.
“Saran kakak apa?”
“Tegaslah dalam hidupmu!” jawab Shin
dengan mantap.
“Caranya?”
“Hapus cinta palsu dan temukan cinta
sejati yang layak dimiliki. Kalo emang sayang gak mungkin kan dia ninggalin
kamu?”
“Dia ninggalin aku demi cewek
lain.”ucap Atan lemas.
“Makanya…, kamu gak pantas sedih
untuk orang yang tengah bahagia dengan orang lain karena dia gak mikirin
perasaan kamu. Dan satu lagi, perempuan yang tulus hanya layak bagi pria yang
hebat.” Ucap Shin penuh arti.
“Ngelupainnya gimana kak?”
“Dengan cara tidak dipikirkan!
Karena semakin mencoba dilupakan semakin susah terlupakan.”
“Gitu ya kak?”
“Yups” jawab Shin mengangguk mantap.
Atan manggut-manggut. Ia menarik
nafas panjang dan menegakkan punggungnya. Sepertinya ia mulai mengerti dan
mencoba membangun pribadi yang lebih kuat.
“Wah kayaknya si preman harus
diganti nama nih…” ucap seseorang tiba-tiba. Shin dan Atan langsung menoleh
asal suara itu dan tampak Ayyi sudah berdiri di belakang mereka. “Kaget ya
tiba-tiba aku di sini?” lanjutnya dengan senyum jailnya.
“Biasa aja tuh..” jawab Shin ketus.
“Hahahah…. Preman melankolis cocok
gak ya?” goda Ayyi.
“Hmm.., Kak thanks sarannya. Aku mau
masuk dulu. Takut jadi korban peperangan kalian. Hihih….” Seloroh Atan yang
langsung bergegas pergi.
“Hahahah…. Kalo perlu kunci semua
pintu biar gak ada yang jadi korban.” Gurau Ayyi pada Atan.
“Korban? Emang kita mau ngapain?
Huh..” ucap Shin sok acuh kemudian pergi meninggalkan Ayyi dengan jalan yang
berlagak.
“Wahahaha… udah katro, gaya
selangit! Dasar preman melankolis.” Ledek Ayyi yang tak pernah hentinya
menggoda Shin. Mungkin bagi Ayyi, Shin orang yang paling asik untuk diganggu.
Atau entahlah…
*****
Di sela-sela ketenangan saat
sarapan, Mimih membuka pembicaraan. “Bunda.., Ayah…, Mimih ke kampusnya
sekarang minta jemput boleh gak?” Tanya Mimih dengan manja setengah takut.
Adik-adiknya yang asik makan sontak
kaget dengan ucapan Mimih. “Kok gitu sih? Yang sekolah aja berangkat sendiri.
Kak Mimih yang kuliah malah minta dianterin. Gak adil ahhh” protes Nichi tidak
terima.
“Loh kenapa gitu, Mih??” Tanya
Bunda.
“Kemarin waktu Mimih pulang ngeliat
preman-preman berbadan kekar, tatoan, pake mabok lagi di persimpangan. Kan
mimih takut kalo ntar diapa-apain ama mereka.” Jelas Mimih.
“Kalo kemarin berani masak sekarang
gak berani?” sahut Ayah.
“Kemarin kan kebetulan rame dan
banyak temen cowok jadi berani.”
“…..” Bunda menghela nafas. “Gimana,
Yah?” Tanya bunda pada Ayah.
“Preman kekar yang bertato kan bukan
berarti hebat dan harus ditakuti.” Sahut Shin yang mengundang seluruh
perhatian. “Biar aku aja yang jemput Mimih pulang kuliah. Kan jam pulang kerja
sama kayak jam pulang kuliahnya Mimih. Gimana?” usul Shin memberanikan diri.
“Aku ikut! Ayyi ama Shin kan satu
tempat kerja.” Timpal Ayyi.
“Hmmm….., mending Ayah cari
bodyguard aja. Biar keselamatan kalian terjamin.” Tolak Ayah yang tidak
dilihatkan.
Shin dan Ayyi merasa tersinggung
karena secara tidak langsung tawaran mereka ditolak. “Oohh kalo yang antar aku
ama Ayyi gak terjamin keselamatannya gitu??” ucap Shin dengan nada meninggi.
“Ayah remehin kami?” Tanya Ayyi.
“Aaaarrrggghhhhhhh….. napa jadi
kalian yang ribut sih? Mimih gak mau tau, pokoknya Mimih pulang minta dijemput.
Kalo gak ada yang jemput, Mimih nginep di kampus dan gak pulang sekalian.”
Ancam Mimih.
“Yakin tuuhhhh?” goda Bubu sambil berkedip-kedip.
“Uuuhhhhhh” erang Mimih lalu
mengambil tasnya dan pergi.
“Loh loh loh, kok main pergi gitu?”
Tanya Bunda sedikit panik. “Gimana tuh, Yah??”
“Tenang aja.., Shin ama Ayyi bakal
jemput Mimih kok Bunda.” Ujar Shin mencoba menenangkan Bunda.
Ayyi manggut-manggut membenarkan
ucapan Shin.
Pipih yang masih kesal pada Shin
karena persoalan kwaci kemarin pun bangkit dari duduk dan berpamitan untuk
berangkat sekolah. “Sok hebat!” ketus Pipih seraya melangkah pergi. Mimo,
Minnie, Mickey, Bubu, Ria, Atan, Nichi, dan Frilly bertatapan satu sama lain.
*****
“Kamu sama Pipih belum baikan?”
Tanya Ayyi pada Shin saat meninggal tempat kerja.
“Bodoh.” Sahut Shin jutek.
“Judes amet… aku kan tanya
baik-baik. Lagian Pipih kan adekmu. Napa gak ngajak baikan aja?” saran Ayyi.
“Bawel ya..! Dia kan adekmu juga.
Kenapa gak kamu aja yang suruh dia minta maaf?” balas Shin emosi.
“Yah kan aku gak tau permasalahan
kalian. Entar ngiranya ikut campur.”
“Kalo gak mau bantu mending diem
aja.” Tegas Shin.
Ayyi pun diem seribu kata. Tak ingin
berdebat lagi dengan adiknya. Entah mengalah atau takut yang jelas Ayyi tidak
ingin banyak berkomentar lagi tentang perdebatan kecil antara Shin dan Pipih.
Sepanjang perjalanan menuju kampus
Mimih, Shin dan Ayyi tidak berbicara sama sekali hingga terdengar suara orang
berteriak minta tolong yang memecahkan keheningan.
“TOLOOONNNNGGGG…..” jerit seseorang
yang sangat jelas bahwa suara tersebut adalah suara perempuan.
Shin menyenggol lengan Ayyi. Ayyi
mengangguk mengerti. Mereka segera berlari mencari asal suara itu. Dan benar
saja, Mimih dan seorang teman perempuannya tengah dikepung oleh tiga preman
yang sedang mabuk. Preman-preman yang mungkin dimaksud oleh Mimih. Yang satu berbadan
cukup gemuk dan bertato, yang satunya berbadan kurus tapi bermuka garang, dan
yang terakhir berbadan kekar dan berkumis tebal.
Dengan cepat Shin berlari dan tak
tanggung-tanggung langsung menendang alat vital preman yang bertubuh gemuk
hingga jatuh terkapar. Lalu Ayyi yang dengan kerasnya menghantam preman
bertubuh kekar dengan batu tepat di kepala yang menyebabkan preman itu jatuh
karena tak mampu mengendalikan dirinya.
Tiba-tiba seseorang datang dan
menendang punggung preman yang menyandra Mimih dan teman perempuannya hingga
tersungkur. “Pipih..” sebut Mimih ketika melihat bahwa orang yang datang itu
adalah Pipih, adiknya. Tanpa banyak bicara, Pipih membawa Mimih dan temannya ke
tempat yang aman.
“Kakak gak kenapa-napa kan?” tanya Pipih khawatir.
“MIMIIIHHHHH….” Teriak teman Mimih
ketika melihat preman yang berkumis tebal berlari sambil membawah botol bir
yang kosong untuk menghantam kearah Mimih dan Pipih.
Mimih langsung memeluk Pipih dan
“PYYAAAAARRRRRRR…………” botol itu pecah karena kuatnya hantaman yang berbenturan
dengan lengan kiri Shin yang menghadang. Alhasil lengan Shin terluka dan
berdarah.
“Bedebah..” pekik Ayyi dan
“BBUUUKKKK….” Ayyi mengayunkan kayu dengan kencang tepat pada tengkuk preman
yang berusaha melukai saudaranya.
“Hmmm…” Shin menghela nafas lega
tapi rasa sakit mengalahkannya dan ia pun
terkulai tak sadarkan diri.
*****
Waktu terus berjalan dan suasana
hati yang harap-harap cemas berselimut di hati Bunda, Ayah, Mimih, dan
adik-adiknya. Mereka menanti Shin terbangun dari pingsannya.
“Kalian pulang saja! Besok aku masuk siang jadi biar aku yang
jaga kakak. Bunda dan Ayah juga harus istirahat.” Pinta Pipih pada keluarganya.
“Besok Mimih libur, jadi Mimih yang temani Pipih jagain
Shin.” Timpal Mimih.
“Bunda tetap di sini. Biar Ayah dan lainnya aja yang pulang.”
Tolak Bunda mengelus kening Shin.
“Tapi Ria mau jagain Kak Shin juga.” Sahut Ria mendekati
tempat perbaringan Shin.
“Kita pulang aja dek, kan kamu besok harus sekolah.” Seloroh
Bubu memeluk pundak Ria.
“Iya, Shin akan baik-baik aja kok. Dia kan preman
melankolis.” Sela Ayyi yang sempat-sempatnya meledek Shin.
Mickey langsung mencubit lengan Ayyi yang membuat Ayyi
memekik kesakitan. “Bukannya doain malah ngeledekin!” ucap Mickey memarahi
Ayyi.
“Sudah-sudah.., yang di sini biar Bunda, Mimih, dan Pipih.
Kita pulang dulu! Bagaimana?” ucap Ayah.
“Iya.., kalian pulang
dan istirahat. Besok harus kerja dan sekolah. Kalau Shin udah sadar, Bunda
pasti kasih tau.” Ujar Bunda menimpali usulan Ayah.
Mimo, Minnie, Mickey, dan yang lain pun menurut. Mereka
pulang bersama Ayah ke rumah. Tentu saja mereka sangat berharap cepat mendapat
kabar baik.
*****
“Kalau ngantuk tidur aja, Pih.” Pinta Mimih membelai kepala
adiknya dengan lembut. Pipih mengangguk lemah. Mungkin karena lelah. Pipih pun
menyandarkan kepalanya di tepi ranjang perbaringan Shin. Mimih yang juga merasa
capek, menyandarkan punggungnya ke kursi dan akhirnya terlelap pula.
Malam semakin larut. Bunda tiba-tiba terbangun dan didapati
anak-anaknya telah pulas dalam tidur. Bunda sendiri tak mampu terlelap dalam
tidur karena menanti Shin siuman.
Detik demi detik, menit demi menit, sampai Bunda melihat
tanda-tanda Shin akan sadar. Secara perlahan Shin membuka matanya dan pandang
sayu masih berselubung pada sudut pandangnya. Putih, putih, dan putih. Semua
tampak putih dan tercium aroma yang sangat ia benci, aroma obat. “Pasti di rumah sakit!” pikirnya.
Shin mencoba menggerakkan kepalanya yang terasa berat dan
dilihatnya Mimih dan Pipih yang tertidur dalam posisi duduk.
“Shin..!!!” panggil Bunda dengan senang. “Akhirnya kamu
siuman juga sayang.” ujar Bunda yang tampak senang melihat Shin sadar dari
pingsannya. Karena begitu senangnya, Bunda langsung memeluk dan mengecup kening
Shin.
“Bunda…” panggil Shin dengan nada lemah.
“Iya Shin.., bunda di sini. Semuanya khawatirin kamu sayang.”
Ujar Bunda yang tak hentinya membelai kepala Shin.
“Bunda, semuanya baik-baik aja kan?? Mimih, Ayyi, sama Pipih
gimana? Mereka baik-baik aja kan?” ucap Shin panik walau tubuhnya masih lemas,
terdengar dari suaranya.
“Semuanya baik-baik aja sayang. Kamu gak usah khawatir!
Preman-preman itu juga udah ditangkap karena meresahkan warga setempat. Ini
berkat keberanian kamu dan Ayyi. Bunda dan lainnya bangga sama kalian.” Ujar
Bunda sekaligus memuji Shin dan Ayyi.
Shin tersenyum dan menghela nafas lega. Namun, senyumnya
hilang ketika aroma obat-obatan menyengat dalam penciumannya. “Bunda, besok
Shin mau pulang. Gak mau di sini! Boleh ya bunda…..” ucap Shin memohon untuk
pulang walau kondisinya masih lemah.
“Kamu masih harus dirawat di sini. Belum boleh pulang. Sabar
ya..” tutur Bunda.
“Tapi Bunda kan tau kalau Shin gak suka bau obat. Shin gak
suka di rumah sakit! Lagian Shin hanya luka di tangan dan bentar lagi juga
baikan! Boleh ya bunda…” rengek Shin yang membuat Mimih terbangun.
“Ssshhhhhh…… ribut sekali! Uuuuuhhhh………….” Erang Mimih sambil
mengucek matanya. Dan ketika matanya menatap Shin yang telah siuman,
seakan-akan daya penerangan dalam matanya naik drastis. “Shiiinnnnn……………………”
panggil Mimih kegirangan.
“Kakak…” panggil Shin polos.
“Akhirnya…..! Muuacchh..” Mimih mengecup kening Shin. “Gimana
keadaanmu Shin? Jangan banyak gerak ya. Beberapa hari lagi pasti sembuh.”
Shin menggeleng-geleng. “Pokoknya besok Shin mau pulang. Shin
gak mau di sini lama-lama.” Bantah Shin.
“Ya gak bisa dong Shin. Kamu..”
“Kalau gak dibolehin pulang besok, Shin mau kabur aja.” Ancam
Shin.
Bunda dan Mimih saling memandang. Tampak dari wajah mereka
jika tengah kebingungan. Tidak tau harus berbuat apa karena Shin anak yang
keras kepala. Dia bisa berbuat nekad dan melakukan apa saja yang dia mau.
Tiba-tiba Mimih tersenyum. Senyum yang memiliki maksud
tersembunyi. Bunda melihat Mimih dan mengerutkan kening menandakan suatu
pertanyaan.
“Ya udah besok siang kita pulang ya…” ucap Mimih tiba-tiba
lalu tersenyum pada Bunda. Semakin membingungkan maksud Mimih itu.
*****
“Kakak.., maafin Pipih ya kak. Pipih egois! Padahal kakak
hanya minta kwaci..”
“Udaahhh lupain aja dek. Kakak juga egois asal ngerebut.
Maafin kakak ya dek.” Potong Shin meminta maaf pula.
Pipih mengantuk sambil tersenyum lalu menatap lengan Shin
yang terbalut perban. “Pasti sakit sekali ya kak tangannya.” Ucap Pipih
memasang wajah hibah.
“Aaahhh bentar lagi sakitnya juga udah hilang. Yang penting
semuanya baik-baik aja.”
“KAKAAAKKKKKKKK” teriak seseorang dari luar. Ternyata Ria sambil
membawa plastik yang berisikan buah-buahan! Dia tampak senang melihat Shin yang
sudah siuman.
“Datang-datang main teriak-teriak aja. Gak tau orang kaget
apa?” celetuk Pipih pada Ria.
“Biarin! Week….” Ejek Ria. “Kakak, cepet sembuh ya kak.
Pokoknya waktu pulang ke rumah, kakak harus dalam keadaan sembuh total.” Ujar
Ria sambil menaruh kantong plastik di meja kemudian memeluk Shin yang terkulai.
“Kakak pulangnya bentar lagi dek. Gak betah di rumah sakit
lama-lama. ”
“Gak boleh! Kakak harus di rumah sakit sampe sembuh total.
Gak boleh pulang apa pun itu alasannya.” Giliran Ria yang membantah.
“Tapi…”
“Gak ada tapi-tapian. Kalau masih keras kepala adek pulang
nih sekarang juga! Gak mau peduli lagi ama kakak.” Ucap Ria pura-pura mengancam
karena sebenarnya ini telah direncanakan.
“Tapi dek…”
Ria langsung melepaskan pelukannya lalu berjalan untuk
meninggalkan ruangan tapi Shin langsung berkata “Iya iya dek, kakak gak pulang
sekarang. Kakak tetap di sini sampe sembuh total tapi adek jangan acuh..” ucap
Shin setengah menjerit.
Ria pun berhenti dan tersenyum puas. Akhirnya dia membalikkan
badannya. “Kalau sampe bohong??” ucap Ria mencoba meyakinkan.
“Nggak dek, kakak gak bohong. Beneran kakak pulang kalau udah
sembuh total.” Ujar Shin terpaksa lalu menghela nafas.
Dari dulu Shin hanya luluh pada Ria. Entah mengapa bisa
seperti itu. Padahal Ria bukan anak bungsu. Bahkan Bunda dan Ayah tak mampu
meluluhkan hati Shin yang keras. Hanya Ria satu-satunya yang bisa meluluhkan
Shin.
“Jadi?? Gak jadi pulang nih?” sahut Mimih yang sudah berdiri di depan pintu.
“Gak jadi kak. Mau di sini aja sampe sembuh total.” Kata Shin
yang cukup membuat Mimih lega.
Pipih yang dari tadi diam tampak seperti orang kebingungan.
“Preman kok melankolis??” ujar Pipih lirih.
“Apa kamu bilang?” sahut Shin.
“Eh gak bilang apa-apa kok kak. Heheh adek ke kamar mandi
dulu ya.. hihi”
Pipih segera cabut dan Mimih datang menghampiri. “Preman kok
melankolis! Jadinya preman melankolis deh! Hahahahah” ledek Mimih.