Minggu, 23 Maret 2014

Senja di Ufuk Barat


Waktu bergulir dan menghentikan pendakian surya untuk mengantarkan siang pada malam melalui detik-detik senja yang begitu singkat. Diiringi dedauan yang melambai-lambai menghadirkan udara segar serta deburan ombak yang tak letih memukul pantai, meski tak mampu menyentuh pesisir.
           “Tak seperti dulu lagi. Semua telah berubah seperti semula.” Gumammu yang tengah bersandar pada pohon kelapa yang berdiri kokoh.
            Saat-saat senja selalu membawaku pada masa lalu. Masa di mana aku merasa disayangi, dimengerti, dan dihargai. Di mana ada seseorang yang peduli padaku saat orang-orang membuatku merasa tak diinginkan.
            “Saat kami bertemu kau belum ada, Shin. Kau masih di tempat lain.”
*****
            “Hai.., mengapa kau menangis di sini?”
            “Aku? Ah, kau salah lihat. Aku baik-baik saja.” Sosok gadis asing tiba-tiba datang dan menegurku.
“Kau tidak pandai berbohong.”
“Kau siapa? Aku baru melihatmu hari ini.” Tanyaku dingin mengabaikan ucapannya.
            “Tentu saja kau baru melihatku karena aku warga baru di sini.” Jawabnya tanpa menghilangkan sedetikpun senyumannya.
            “Kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama.” Ucapku tetap bersikap dingin.
            Dia justru terkekeh. “Apa yang lucu?”
            “Namaku Ferlita. Panggil saja aku Lily karena aku sangat menyukai bunga lily. Apa kau suka bunga lily juga? Mmm, siapa namamu?”
            “Panggil Shin saja.” Jawabku seadanya.
            “Wah, kalau begitu aku panggil Shinshin saja. Terdengar manis kan?” Ujarnya seraya melebarkan senyumnya.
            Aku mengangkat alis kiriku. “Manis? Terdengar konyol. Yang benar saja?”
            “Hei, sepertinya senyummu mahal.” Tegurnya yang melihatku mengacuhkannya tanpa ekspresi. “Hmm, sepertinya kau sangat menikmati senja ini. Kalau begitu kita sama. Aku juga sangat menyukai senja.” Celotehnya meski aku masih mengacuhkannya.
            Aku meliriknya dan benar saja. Dia begitu menikmati senja hingga pantang baginya untuk berkedip dan menghilangkan senyumnya. “Kau ini aneh sekali. Datang, menegur, dan mengatakan apa saja yang kau inginkan meski aku tak menggubrismu.”
Namun, perlahan justru keanehannya itu lah yang membuatku ingin tersenyum dan mengenalnya lebih dekat. Meski dia cerewet tapi cukup hangat. Paling tidak untuk saat ini.
            Lambat laun kami mulai dekat. Bagiku dia sahabat terbaik yang pernah ada. Satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa damai. Dia memberikan sebuah kasih sayang persahabatan yang tak kudapat dari siapa pun sebelumnya.
            Disaat orang-orang menghujatku karena aku adalah anak yang terbuang, dia justru datang untuk menggenggam tanganku. Disaat aku mendapat cercahan karena aku dianggap anak haram, dia datang memelukku. Dia seperti dewi yang dikirim langit untukku.
            “Shinshin, lihat!” Pintanya histeris saat kami jalan-jalan di taman hiburan. “Lihat boneka ninja yang berbaju merah dengan tompel merah di keduapipinya itu. Dia sangat lucu. Sama sepertimu. Nama kalian juga mirip.” Paparnya yang sangat menyukai film animasi.
            “Hah?”
            “Namanya Shinzou. Mirip bukan? Aku akan membelikannya untukmu.” Jawabnya lalu beranjak menuju penjual boneka tersebut. Namun, aku langsung mencegahnya. “Ada apa Shinshin?”
            “Aku tidak mau. Belikan untuk dirimu sendiri saja.”
            “Kau harus mau! Pemberian tidak boleh ditolak kan?” Tak pernah sekalipun dia tidak membuatku luluh. Menyebalkan.
            Aneh dan menyebalkan telah menjadi sifat permanennya. Tidak bisa diganggu gugat. Aku tidak membayangkan bagaimana jika seandainya dia marah atau bersedih. Yah, aku tak pernah melihatnya marah maupun sedih. Mungkin dia tak pernah menunjukkan ekspresi marahnya di depanku.
            “Shin, kau ingat pertama kali kita bertemu?”
            “Ya?”
            “Kita bertemu saat senja. Sejak itu kita pun sering menghabiskan waktu bersama saat senja, bahkan sekarang kita bersantai saat senja.”
            “Lalu?” Tanyaku dingin.
            “Jika kelak kita berpisah saat senja, apa yang kau lakukan setelah perpisahan kita?” Ucapnya lirih yang tentu masih terdengar olehku.
            “Ke mana arah pembicaraan ini? Aku tidak suka membahas segala sesuatu tentang perpisahan”
            “Tapi perpisahan pasti ada. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Benar kan?”
            Aku langsung berdiri dan memunggunginya. “Aku akan pulang jika kau membicarakan itu lagi.” Ucapku dingin. “Ada apa dengamu, Lily? Apa maksudmu dengan perpisahan? Seperti tidak ada pembahasan lain.” Pikirku kesal.
            Aku meliriknya yang tengah berdiri dengan lunglai. Dia tidak selincah sebelumnya. Namun, senyumnya tak pernah sirna. Aku mulai khawatir padanya. Apa dia sakit? Atau mungkin dia ada masalah?
            “Kau marah padaku?” Aku berbalik memandangnya. “Aku hanya mencoba seperti dirimu. Yah, sepertimu yang selalu dingin dan melankolis. Tapi sepertinya tidak cocok.” Terangnya mencoba memberi penjelasan lalu terkekeh untuk mencairkan suasana.
            “Iya, kau tidak cocok. Kau lebih cocok menjadi Lily yang lincah dan aneh.” Sahutku berkata sejujurnya. “Jangan berubah! Tetaplah menjadi Lily yang kukenal. Kau mengerti kan?” Lanjutku lagi mencoba tersenyum.
            Bukan jawaban yang kudapat, melainkan pelukan yang kuterima dan aku pun membalasnya. Hanya saja pelukan ini tidak biasa. Erat, erat sekali! Seperti dia tidak rela melepasku meski hanya hitungan detik. Aku pun tak ingin bertanya mengapa dia seperti ini karena aku yakin dia tak akan menjawabnya. Maksudnya, tidak untuk sekarang.
            “Shinshin…” Panggilnya setelah melepaskan pelukannya. “Aku ingin kau berubah. Aku ingin kau menjadi Shinshin yang bersahabat dengan hidup dan keadaan. Bukan Shinshin yang dingin, pendiam, apalagi membenci sekelilingnya. Kau mau kan Shinshin? Kau harus mau!” Ujarnya dengan nada suara yang lemah.
            “Kalau aku tidak mau?” Tantangku.
            “Aku akan mengacuhkanmu seperti kau mengacuhkan segalanya.” Tegasnya setelah melepaskan pelukannya.
            “Coba saja!” Sahutku tak kalah tegas yang sebenarnya hanya pura-pura saja. Karena tidak ada jawaban, akhirnya aku beranjak beberapa langkah meninggalkannya untuk mendapat responnya.
            “Shinshin…, mengapa pergi? Ayolah.., sampai kapan kau keras kepala seperti ini? Ketika banyak orang membencimu, bukan berarti kau membenci semua orang dan kehidupan ini kan?” Eluhnya seraya menghampiriku dan meraih tanganku meski aku masih tetap berjalan.
            “Kepala memang keras kan? Apa ada kepala yang lunak?”
            “Kau masih saja menjengkelkan. Lebih menjengkelkan dari yang kubayangkan! Mau tidak mau kau tetap harus mau.” Paksanya yang terus mengikutiku. Sejujurnya aku senang membuatnya kesal. Semakin ia kesal semakin ia lucu di mataku.
            Namun, akhirnya aku menyadari jika senja itu adalah terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar suaranya. Hari demi hari, pekan demi pekan, bahkan bulan demi bulan sudah kulalui untuk mencarinya. Tapi tak seorang pun yang bisa menjawabku.
            “Shin, Lily pergi dan belum kembali. Kau pulang saja dan beristirahatlah. Lily pasti tidak suka melihatmu khawatir seperti ini.”
            Hanya jawaban itu yang selalu kudapat dari saudara Lily. Dia berusaha menenangkanku, tapi raut wajahnya tak dapat membohongiku. Dia tampak menyembunyikan sesuatu. Namun, aku tidak tahu apa itu?
            “LILLLLYYYY……! KAU DI MANAAA????” Teriakku seperti orang gila. Namun, tak ada jawaban. Lagi dan lagi hanya terdengar deburan ombak dan tiupan angin. Yah, lagi dan lagi hanya terlihat surya yang tenggelam dan menghadirkan warna jingga yang semburat di langit.
            “Hiks.. hiks..” Aku masih berdiri sambil terisak menyapu sekelilingku dengan pandangan dan berharap aku akan menemukannya. Seiring air mata yang makin membasahi pipiku, aku bertanya dalam hati. “Mengapa langit begitu tega? Menghadirkan seseorang yang menyayangiku lalu menjauhkannya lagi.”
            “Shinshin…” Aku menunduk dan memukul keningku. Aku mulai berhalusinasi karena terlalu merindukannya.
            “Shinshin…” Sepertinya aku mulai gila. Tapi suara itu begitu jelas. Itu suara Lily.
            “Aku di sini. Tepat di belakangmu. Aku bersamamu, Shinshin.” Ucapnya lagi dengan nada yang lemah. Aku belum gila karena aku benar-benar mendengarnya.
            Aku segera membalikkan tubuhku untuk meyakinkan jika itu memang suara Lily, tapi terlambat. Seseorang telah memelukku dari belakang. Aku yakin jika yang memelukku adalah Lily. Dia pasti Lily.
            “Shinshin.., aku datang. Maaf, membuatmu khawatir.” Ujarnya lagi dengan suara yang lemah bahkan nyaris tidak terdengar.
            “Mengapa kau pergi?” Tanyaku singkat menahan tangis. Entah aku harus sedih karena kondisinya atau bahagia karena dia kembali. Tiba-tiba aku merasa punggungku basah. Mungkinkah dia menangis? Aku tak pernah melihatnya menangis bahkan sekedar melihat matanya berkaca-kaca.
            Akhirnya Lily melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhku. Ini lah pertama kali aku melihatnya menitikkan air mata meski bibirnya tetap tersenyum. Dia benar-benar terlihat lemah. Matanya yang cekung, bibir yang pucat, dan tubuhnya sangat kurus. Seperti tengkorak yang hanya terbungkus kulit.
            “Kau sangat merindukanku kan?” Aku mengangguk dan air mataku pun akhirnya mengalir. “Jangan menangis, Shinshin!”
            Kami pun duduk menikmati sisa-sisa senja di pesisir. Awalnya aku menolak dan ingin membawanya ke rumah sakit karena kondisinya sangat lemah, tapi dia justru memaksa untuk tetap di sini.
            “Mereka membenciku. Mereka menghindari dan menjauhiku sejauh mungkin. Apa salah aku ingin memiliki sahabat dalam hidupku meski aku tak sama dengan mereka? Apa salah aku ingin tertawa bersama mereka meski kami beda?” Selorohnya padaku sambil terisak. Aku hanya diam membatu tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ternyata banyak hal yang tidak kuketahui tentang dirinya.  
“Sahabat macam apa aku ini?”
            “Saudaraku mengetahui apa yang kualami dan membawaku ke tempat yang tenang ini. Tempat yang sangat indah dengan harapan aku akan memulai hidup yang baru. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu, baru aku menyadari jika banyak sekali kebahagiaan yang aku lewatkan dengan tangisan.” Ucapnya lagi. Dan tentunya aku masih tidak mengerti apa yang dikatakannya.           
            “Shinshin…”
            BRRUUKK! Aku menarik tangannya dan membenamkan wajahnya dalam dekapanku. “Jangan katakan lagi! Cukup jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi padamu?”
            “Aku mengidap kanker paru-paru.”
            DEG! Sebuah pukulan menghantam jantungku setelah mendengar apa yang diucapnya. Tak pernah terbesit olehku akan apa yang menimpa sahabatku ini. Mungkinkah ini alasan mengapa sepupunya selalu mencoba menghindar dariku? Inikah alasan Lily pergi sekian lamanya meninggalkanku?
            “Shinshin.., kau tidak membenciku kan? Kau tidak akan menjauhiku seperti yang lain karena aku orang yang berpenyakit kan?” Tanyanya yang kini benar-benar diiringi oleh tangisan. “Kau akan tetap menjadi sahabatku kan, Shinshin?”
            Aku melepaskan pelukanku untuk menatapnya dalam-dalam. Kuusapkan tanganku untuk menghapus air matanya. “Itu pertanyaan bodoh yang pernah ada. Kau lihat? Aku masih di sini. Selamanya bersamamu.” Jawabku mencoba tersenyum meski air mataku bersiap untuk mengalir.
            “Bangun!” Pintaku  membantunya bangkit. “Aku harus membawamu ke rumah sakit.”
            “Aku tidak mau. Aku tidak suka berada di sana.”
            “Kali ini aku tak akan menurutimu.” Tegasku sambil meraih lengan dan pundaknya untuk mengajaknya beranjak.
            “Shin, aku mohon. Aku tetap ingin di sini.”
            “Senja sudah pergi.”
            “Belum, senja belum pergi. Sekalipun sudah pergi, tapi kita masih di sini.”
            Aku terpaku menatapnya. Sorotan matanya menunjukkan jika ia benar-benar masih ingin di sini meski ia tahu jika tetap di sini maka akan berakibat buruk.
            “Shin, aku mohon padamu. Ini terakhirkalinya aku memohon. Aku janji.” Paksanya sambil memelukku.
            Pandanganku teralih pada sesosok yang berdiri tidak jauh dari kami. Sosok yang tidak asing, sepupu Lily. Entah sejak kapan dia berdiri di sana. Dia hanya mengangguk-angguk pelan dan beralirkan air mata kepadaku. Aku pun mengerti.
            Aku membalas pelukan Lily dengan erat. “Aku menyayangimu, Ly. Kau orang yang membawa kedamaian dalam hidupku. Kau adalah alasan bagiku untuk tetap mencintai kehidupan. Hiks, aku sangat menyayangimu.” Isakku.
            “Aku pun begitu. Kau tahu? Aku ingin kehidupan keduaku bersamamu. Aku.., aku ingin kita terlahir dengan sosok yang berbeda. Karena.. kau.., pantas.. dicintai.” Ujarnya terbata-bata.
            “Jangan bicara lagi!” Pintaku lirih. Aku merasa pundakku teramat basah. Basah karena air matanya.
            “Aku.., menunggumu.. karena aku.. ingin kehidupan.. kedua kita. Maafkan.. aku, Shinshin. Ma..af..!” Ucapnya lagi.
            Tangan yang memelukku dengan erat akhirnya terlepas. Dan aku jatuh bertekuk lutut menahan tubuhnya yang masih dalam dekapanku. Dia pergi! Ya, dia meninggal dalam pelukanku. Dia pergi bersama senja dan meninggalkanku sendiri.
            “Tunggu aku di sana, Ly!” Bisikku pada telinganya yang aku tahu jika ia tak bisa mendengarku lagi.
            “Kau juga pantas dicintai dan dihargai.”
*****
            “Kau sama sepertinya. Kau tahu mengapa?” Aku terdiam sejenak memandang boneka yang pernah dibelikan Lily untukku. “Kalian sama-sama tidak bisa berhenti tersenyum padaku.” Ujarku lalu terkekeh.
            Kutebarkan pandanganku pada pemandangan yang nyaris tak pernah berbeda tiap harinya. Tapi aku tak pernah bosan memandangnya. Karena senja di kaki langit barat ini sangat indah adanya.
            “Shinzou, sudah waktunya kita pulang!” Ajakku sambil membawa boneka itu dalam pelukanku dan meninggalkan pesisir.