Waktu
bergulir dan menghentikan pendakian surya untuk mengantarkan siang pada malam
melalui detik-detik senja yang begitu singkat. Diiringi dedauan yang melambai-lambai
menghadirkan udara segar serta deburan ombak yang tak letih memukul pantai,
meski tak mampu menyentuh pesisir.
“Tak seperti dulu lagi. Semua telah
berubah seperti semula.” Gumammu yang tengah bersandar pada pohon kelapa yang
berdiri kokoh.
Saat-saat senja selalu membawaku
pada masa lalu. Masa di mana aku merasa disayangi, dimengerti, dan dihargai. Di
mana ada seseorang yang peduli padaku saat orang-orang membuatku merasa tak
diinginkan.
“Saat kami bertemu kau belum ada,
Shin. Kau masih di tempat lain.”
*****
“Hai.., mengapa kau menangis di
sini?”
“Aku? Ah, kau salah lihat. Aku
baik-baik saja.” Sosok gadis asing tiba-tiba datang dan menegurku.
“Kau
tidak pandai berbohong.”
“Kau
siapa? Aku baru melihatmu hari ini.” Tanyaku dingin mengabaikan ucapannya.
“Tentu saja kau baru melihatku
karena aku warga baru di sini.” Jawabnya tanpa menghilangkan sedetikpun
senyumannya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku
yang pertama.” Ucapku tetap bersikap dingin.
Dia justru terkekeh. “Apa yang lucu?”
“Namaku Ferlita. Panggil saja aku
Lily karena aku sangat menyukai bunga lily. Apa kau suka bunga lily juga? Mmm,
siapa namamu?”
“Panggil Shin saja.” Jawabku
seadanya.
“Wah, kalau begitu aku panggil
Shinshin saja. Terdengar manis kan?” Ujarnya seraya melebarkan senyumnya.
Aku mengangkat alis kiriku. “Manis? Terdengar konyol. Yang benar saja?”
“Hei, sepertinya senyummu mahal.”
Tegurnya yang melihatku mengacuhkannya tanpa ekspresi. “Hmm, sepertinya kau
sangat menikmati senja ini. Kalau begitu kita sama. Aku juga sangat menyukai
senja.” Celotehnya meski aku masih mengacuhkannya.
Aku meliriknya dan benar saja. Dia
begitu menikmati senja hingga pantang baginya untuk berkedip dan menghilangkan
senyumnya. “Kau ini aneh sekali. Datang,
menegur, dan mengatakan apa saja yang kau inginkan meski aku tak menggubrismu.”
Namun,
perlahan justru keanehannya itu lah yang membuatku ingin tersenyum dan
mengenalnya lebih dekat. Meski dia cerewet tapi cukup hangat. Paling tidak
untuk saat ini.
Lambat laun kami mulai dekat. Bagiku
dia sahabat terbaik yang pernah ada. Satu-satunya orang yang bisa membuatku
merasa damai. Dia memberikan sebuah kasih sayang persahabatan yang tak kudapat
dari siapa pun sebelumnya.
Disaat orang-orang menghujatku karena
aku adalah anak yang terbuang, dia justru datang untuk menggenggam tanganku.
Disaat aku mendapat cercahan karena aku dianggap anak haram, dia datang
memelukku. Dia seperti dewi yang dikirim langit untukku.
“Shinshin, lihat!” Pintanya histeris
saat kami jalan-jalan di taman hiburan. “Lihat boneka ninja yang berbaju merah
dengan tompel merah di keduapipinya itu. Dia sangat lucu. Sama sepertimu. Nama
kalian juga mirip.” Paparnya yang sangat menyukai film animasi.
“Hah?”
“Namanya Shinzou. Mirip bukan? Aku
akan membelikannya untukmu.” Jawabnya lalu beranjak menuju penjual boneka
tersebut. Namun, aku langsung mencegahnya. “Ada apa Shinshin?”
“Aku tidak mau. Belikan untuk dirimu
sendiri saja.”
“Kau harus mau! Pemberian tidak
boleh ditolak kan?” Tak pernah sekalipun dia tidak membuatku luluh. Menyebalkan.
Aneh dan menyebalkan telah menjadi
sifat permanennya. Tidak bisa diganggu gugat. Aku tidak membayangkan bagaimana
jika seandainya dia marah atau bersedih. Yah, aku tak pernah melihatnya marah
maupun sedih. Mungkin dia tak pernah menunjukkan ekspresi marahnya di depanku.
“Shin, kau ingat pertama kali kita
bertemu?”
“Ya?”
“Kita bertemu saat senja. Sejak itu
kita pun sering menghabiskan waktu bersama saat senja, bahkan sekarang kita
bersantai saat senja.”
“Lalu?” Tanyaku dingin.
“Jika kelak kita berpisah saat
senja, apa yang kau lakukan setelah perpisahan kita?” Ucapnya lirih yang tentu
masih terdengar olehku.
“Ke mana arah pembicaraan ini? Aku
tidak suka membahas segala sesuatu tentang perpisahan”
“Tapi perpisahan pasti ada. Setiap
pertemuan akan ada perpisahan. Benar kan?”
Aku langsung berdiri dan
memunggunginya. “Aku akan pulang jika kau membicarakan itu lagi.” Ucapku
dingin. “Ada apa dengamu, Lily? Apa
maksudmu dengan perpisahan? Seperti tidak ada pembahasan lain.” Pikirku
kesal.
Aku meliriknya yang tengah berdiri
dengan lunglai. Dia tidak selincah sebelumnya. Namun, senyumnya tak pernah
sirna. Aku mulai khawatir padanya. Apa dia sakit? Atau mungkin dia ada masalah?
“Kau marah padaku?” Aku berbalik
memandangnya. “Aku hanya mencoba seperti dirimu. Yah, sepertimu yang selalu
dingin dan melankolis. Tapi sepertinya tidak cocok.” Terangnya mencoba memberi
penjelasan lalu terkekeh untuk mencairkan suasana.
“Iya, kau tidak cocok. Kau lebih
cocok menjadi Lily yang lincah dan aneh.” Sahutku berkata sejujurnya. “Jangan
berubah! Tetaplah menjadi Lily yang kukenal. Kau mengerti kan?” Lanjutku lagi
mencoba tersenyum.
Bukan jawaban yang kudapat, melainkan
pelukan yang kuterima dan aku pun membalasnya. Hanya saja pelukan ini tidak
biasa. Erat, erat sekali! Seperti dia tidak rela melepasku meski hanya hitungan
detik. Aku pun tak ingin bertanya mengapa dia seperti ini karena aku yakin dia
tak akan menjawabnya. Maksudnya, tidak untuk sekarang.
“Shinshin…” Panggilnya setelah
melepaskan pelukannya. “Aku ingin kau berubah. Aku ingin kau menjadi Shinshin
yang bersahabat dengan hidup dan keadaan. Bukan Shinshin yang dingin, pendiam,
apalagi membenci sekelilingnya. Kau mau kan Shinshin? Kau harus mau!” Ujarnya
dengan nada suara yang lemah.
“Kalau aku tidak mau?” Tantangku.
“Aku akan mengacuhkanmu seperti kau
mengacuhkan segalanya.” Tegasnya setelah melepaskan pelukannya.
“Coba saja!” Sahutku tak kalah tegas
yang sebenarnya hanya pura-pura saja. Karena tidak ada jawaban, akhirnya aku
beranjak beberapa langkah meninggalkannya untuk mendapat responnya.
“Shinshin…, mengapa pergi? Ayolah..,
sampai kapan kau keras kepala seperti ini? Ketika banyak orang membencimu,
bukan berarti kau membenci semua orang dan kehidupan ini kan?” Eluhnya seraya
menghampiriku dan meraih tanganku meski aku masih tetap berjalan.
“Kepala memang keras kan? Apa ada
kepala yang lunak?”
“Kau masih saja menjengkelkan. Lebih
menjengkelkan dari yang kubayangkan! Mau tidak mau kau tetap harus mau.”
Paksanya yang terus mengikutiku. Sejujurnya aku senang membuatnya kesal.
Semakin ia kesal semakin ia lucu di mataku.
Namun, akhirnya aku menyadari jika
senja itu adalah terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar suaranya. Hari
demi hari, pekan demi pekan, bahkan bulan demi bulan sudah kulalui untuk
mencarinya. Tapi tak seorang pun yang bisa menjawabku.
“Shin, Lily pergi dan belum kembali.
Kau pulang saja dan beristirahatlah. Lily pasti tidak suka melihatmu khawatir
seperti ini.”
Hanya jawaban itu yang selalu
kudapat dari saudara Lily. Dia berusaha menenangkanku, tapi raut wajahnya tak
dapat membohongiku. Dia tampak menyembunyikan sesuatu. Namun, aku tidak tahu
apa itu?
“LILLLLYYYY……! KAU DI MANAAA????”
Teriakku seperti orang gila. Namun, tak ada jawaban. Lagi dan lagi hanya
terdengar deburan ombak dan tiupan angin. Yah, lagi dan lagi hanya terlihat
surya yang tenggelam dan menghadirkan warna jingga yang semburat di langit.
“Hiks.. hiks..” Aku masih berdiri
sambil terisak menyapu sekelilingku dengan pandangan dan berharap aku akan
menemukannya. Seiring air mata yang makin membasahi pipiku, aku bertanya dalam
hati. “Mengapa langit begitu tega?
Menghadirkan seseorang yang menyayangiku lalu menjauhkannya lagi.”
“Shinshin…” Aku menunduk dan memukul
keningku. Aku mulai berhalusinasi karena terlalu merindukannya.
“Shinshin…” Sepertinya aku mulai
gila. Tapi suara itu begitu jelas. Itu suara Lily.
“Aku di sini. Tepat di belakangmu.
Aku bersamamu, Shinshin.” Ucapnya lagi dengan nada yang lemah. Aku belum gila
karena aku benar-benar mendengarnya.
Aku segera membalikkan tubuhku untuk
meyakinkan jika itu memang suara Lily, tapi terlambat. Seseorang telah
memelukku dari belakang. Aku yakin jika yang memelukku adalah Lily. Dia pasti
Lily.
“Shinshin.., aku datang. Maaf,
membuatmu khawatir.” Ujarnya lagi dengan suara yang lemah bahkan nyaris tidak
terdengar.
“Mengapa kau pergi?” Tanyaku singkat
menahan tangis. Entah aku harus sedih karena kondisinya atau bahagia karena dia
kembali. Tiba-tiba aku merasa punggungku basah. Mungkinkah dia menangis? Aku
tak pernah melihatnya menangis bahkan sekedar melihat matanya berkaca-kaca.
Akhirnya Lily melepaskan pelukannya
dan membalikkan tubuhku. Ini lah pertama kali aku melihatnya menitikkan air
mata meski bibirnya tetap tersenyum. Dia benar-benar terlihat lemah. Matanya
yang cekung, bibir yang pucat, dan tubuhnya sangat kurus. Seperti tengkorak
yang hanya terbungkus kulit.
“Kau sangat merindukanku kan?” Aku
mengangguk dan air mataku pun akhirnya mengalir. “Jangan menangis, Shinshin!”
Kami pun duduk menikmati sisa-sisa
senja di pesisir. Awalnya aku menolak dan ingin membawanya ke rumah sakit
karena kondisinya sangat lemah, tapi dia justru memaksa untuk tetap di sini.
“Mereka membenciku. Mereka menghindari
dan menjauhiku sejauh mungkin. Apa salah aku ingin memiliki sahabat dalam
hidupku meski aku tak sama dengan mereka? Apa salah aku ingin tertawa bersama
mereka meski kami beda?” Selorohnya padaku sambil terisak. Aku hanya diam
membatu tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ternyata banyak hal yang tidak
kuketahui tentang dirinya.
“Sahabat macam apa aku ini?”
“Saudaraku mengetahui apa yang
kualami dan membawaku ke tempat yang tenang ini. Tempat yang sangat indah
dengan harapan aku akan memulai hidup yang baru. Sampai akhirnya aku bertemu
denganmu, baru aku menyadari jika banyak sekali kebahagiaan yang aku lewatkan
dengan tangisan.” Ucapnya lagi. Dan tentunya aku masih tidak mengerti apa yang
dikatakannya.
“Shinshin…”
BRRUUKK! Aku menarik tangannya dan
membenamkan wajahnya dalam dekapanku. “Jangan katakan lagi! Cukup jawab
pertanyaanku. Apa yang terjadi padamu?”
“Aku mengidap kanker paru-paru.”
DEG! Sebuah pukulan menghantam
jantungku setelah mendengar apa yang diucapnya. Tak pernah terbesit olehku akan
apa yang menimpa sahabatku ini. Mungkinkah ini alasan mengapa sepupunya selalu
mencoba menghindar dariku? Inikah alasan Lily pergi sekian lamanya
meninggalkanku?
“Shinshin.., kau tidak membenciku
kan? Kau tidak akan menjauhiku seperti yang lain karena aku orang yang
berpenyakit kan?” Tanyanya yang kini benar-benar diiringi oleh tangisan. “Kau
akan tetap menjadi sahabatku kan, Shinshin?”
Aku melepaskan pelukanku untuk
menatapnya dalam-dalam. Kuusapkan tanganku untuk menghapus air matanya. “Itu
pertanyaan bodoh yang pernah ada. Kau lihat? Aku masih di sini. Selamanya
bersamamu.” Jawabku mencoba tersenyum meski air mataku bersiap untuk mengalir.
“Bangun!” Pintaku membantunya bangkit. “Aku harus membawamu ke
rumah sakit.”
“Aku tidak mau. Aku tidak suka
berada di sana.”
“Kali ini aku tak akan menurutimu.”
Tegasku sambil meraih lengan dan pundaknya untuk mengajaknya beranjak.
“Shin, aku mohon. Aku tetap ingin di
sini.”
“Senja sudah pergi.”
“Belum, senja belum pergi. Sekalipun
sudah pergi, tapi kita masih di sini.”
Aku terpaku menatapnya. Sorotan
matanya menunjukkan jika ia benar-benar masih ingin di sini meski ia tahu jika
tetap di sini maka akan berakibat buruk.
“Shin, aku mohon padamu. Ini
terakhirkalinya aku memohon. Aku janji.” Paksanya sambil memelukku.
Pandanganku teralih pada sesosok
yang berdiri tidak jauh dari kami. Sosok yang tidak asing, sepupu Lily. Entah
sejak kapan dia berdiri di sana. Dia hanya mengangguk-angguk pelan dan
beralirkan air mata kepadaku. Aku pun mengerti.
Aku membalas pelukan Lily dengan
erat. “Aku menyayangimu, Ly. Kau orang yang membawa kedamaian dalam hidupku.
Kau adalah alasan bagiku untuk tetap mencintai kehidupan. Hiks, aku sangat
menyayangimu.” Isakku.
“Aku pun begitu. Kau tahu? Aku ingin
kehidupan keduaku bersamamu. Aku.., aku ingin kita terlahir dengan sosok yang
berbeda. Karena.. kau.., pantas.. dicintai.” Ujarnya terbata-bata.
“Jangan bicara lagi!” Pintaku lirih.
Aku merasa pundakku teramat basah. Basah karena air matanya.
“Aku.., menunggumu.. karena aku..
ingin kehidupan.. kedua kita. Maafkan.. aku, Shinshin. Ma..af..!” Ucapnya lagi.
Tangan yang memelukku dengan erat
akhirnya terlepas. Dan aku jatuh bertekuk lutut menahan tubuhnya yang masih
dalam dekapanku. Dia pergi! Ya, dia meninggal dalam pelukanku. Dia pergi
bersama senja dan meninggalkanku sendiri.
“Tunggu aku di sana, Ly!” Bisikku
pada telinganya yang aku tahu jika ia tak bisa mendengarku lagi.
“Kau
juga pantas dicintai dan dihargai.”
*****
“Kau sama sepertinya. Kau tahu
mengapa?” Aku terdiam sejenak memandang boneka yang pernah dibelikan Lily
untukku. “Kalian sama-sama tidak bisa berhenti tersenyum padaku.” Ujarku lalu
terkekeh.
Kutebarkan pandanganku pada
pemandangan yang nyaris tak pernah berbeda tiap harinya. Tapi aku tak pernah
bosan memandangnya. Karena senja di kaki langit barat ini sangat indah adanya.
“Shinzou, sudah waktunya kita
pulang!” Ajakku sambil membawa boneka itu dalam pelukanku dan meninggalkan
pesisir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar