Minggu, 23 Maret 2014

Senja di Ufuk Barat


Waktu bergulir dan menghentikan pendakian surya untuk mengantarkan siang pada malam melalui detik-detik senja yang begitu singkat. Diiringi dedauan yang melambai-lambai menghadirkan udara segar serta deburan ombak yang tak letih memukul pantai, meski tak mampu menyentuh pesisir.
           “Tak seperti dulu lagi. Semua telah berubah seperti semula.” Gumammu yang tengah bersandar pada pohon kelapa yang berdiri kokoh.
            Saat-saat senja selalu membawaku pada masa lalu. Masa di mana aku merasa disayangi, dimengerti, dan dihargai. Di mana ada seseorang yang peduli padaku saat orang-orang membuatku merasa tak diinginkan.
            “Saat kami bertemu kau belum ada, Shin. Kau masih di tempat lain.”
*****
            “Hai.., mengapa kau menangis di sini?”
            “Aku? Ah, kau salah lihat. Aku baik-baik saja.” Sosok gadis asing tiba-tiba datang dan menegurku.
“Kau tidak pandai berbohong.”
“Kau siapa? Aku baru melihatmu hari ini.” Tanyaku dingin mengabaikan ucapannya.
            “Tentu saja kau baru melihatku karena aku warga baru di sini.” Jawabnya tanpa menghilangkan sedetikpun senyumannya.
            “Kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama.” Ucapku tetap bersikap dingin.
            Dia justru terkekeh. “Apa yang lucu?”
            “Namaku Ferlita. Panggil saja aku Lily karena aku sangat menyukai bunga lily. Apa kau suka bunga lily juga? Mmm, siapa namamu?”
            “Panggil Shin saja.” Jawabku seadanya.
            “Wah, kalau begitu aku panggil Shinshin saja. Terdengar manis kan?” Ujarnya seraya melebarkan senyumnya.
            Aku mengangkat alis kiriku. “Manis? Terdengar konyol. Yang benar saja?”
            “Hei, sepertinya senyummu mahal.” Tegurnya yang melihatku mengacuhkannya tanpa ekspresi. “Hmm, sepertinya kau sangat menikmati senja ini. Kalau begitu kita sama. Aku juga sangat menyukai senja.” Celotehnya meski aku masih mengacuhkannya.
            Aku meliriknya dan benar saja. Dia begitu menikmati senja hingga pantang baginya untuk berkedip dan menghilangkan senyumnya. “Kau ini aneh sekali. Datang, menegur, dan mengatakan apa saja yang kau inginkan meski aku tak menggubrismu.”
Namun, perlahan justru keanehannya itu lah yang membuatku ingin tersenyum dan mengenalnya lebih dekat. Meski dia cerewet tapi cukup hangat. Paling tidak untuk saat ini.
            Lambat laun kami mulai dekat. Bagiku dia sahabat terbaik yang pernah ada. Satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa damai. Dia memberikan sebuah kasih sayang persahabatan yang tak kudapat dari siapa pun sebelumnya.
            Disaat orang-orang menghujatku karena aku adalah anak yang terbuang, dia justru datang untuk menggenggam tanganku. Disaat aku mendapat cercahan karena aku dianggap anak haram, dia datang memelukku. Dia seperti dewi yang dikirim langit untukku.
            “Shinshin, lihat!” Pintanya histeris saat kami jalan-jalan di taman hiburan. “Lihat boneka ninja yang berbaju merah dengan tompel merah di keduapipinya itu. Dia sangat lucu. Sama sepertimu. Nama kalian juga mirip.” Paparnya yang sangat menyukai film animasi.
            “Hah?”
            “Namanya Shinzou. Mirip bukan? Aku akan membelikannya untukmu.” Jawabnya lalu beranjak menuju penjual boneka tersebut. Namun, aku langsung mencegahnya. “Ada apa Shinshin?”
            “Aku tidak mau. Belikan untuk dirimu sendiri saja.”
            “Kau harus mau! Pemberian tidak boleh ditolak kan?” Tak pernah sekalipun dia tidak membuatku luluh. Menyebalkan.
            Aneh dan menyebalkan telah menjadi sifat permanennya. Tidak bisa diganggu gugat. Aku tidak membayangkan bagaimana jika seandainya dia marah atau bersedih. Yah, aku tak pernah melihatnya marah maupun sedih. Mungkin dia tak pernah menunjukkan ekspresi marahnya di depanku.
            “Shin, kau ingat pertama kali kita bertemu?”
            “Ya?”
            “Kita bertemu saat senja. Sejak itu kita pun sering menghabiskan waktu bersama saat senja, bahkan sekarang kita bersantai saat senja.”
            “Lalu?” Tanyaku dingin.
            “Jika kelak kita berpisah saat senja, apa yang kau lakukan setelah perpisahan kita?” Ucapnya lirih yang tentu masih terdengar olehku.
            “Ke mana arah pembicaraan ini? Aku tidak suka membahas segala sesuatu tentang perpisahan”
            “Tapi perpisahan pasti ada. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Benar kan?”
            Aku langsung berdiri dan memunggunginya. “Aku akan pulang jika kau membicarakan itu lagi.” Ucapku dingin. “Ada apa dengamu, Lily? Apa maksudmu dengan perpisahan? Seperti tidak ada pembahasan lain.” Pikirku kesal.
            Aku meliriknya yang tengah berdiri dengan lunglai. Dia tidak selincah sebelumnya. Namun, senyumnya tak pernah sirna. Aku mulai khawatir padanya. Apa dia sakit? Atau mungkin dia ada masalah?
            “Kau marah padaku?” Aku berbalik memandangnya. “Aku hanya mencoba seperti dirimu. Yah, sepertimu yang selalu dingin dan melankolis. Tapi sepertinya tidak cocok.” Terangnya mencoba memberi penjelasan lalu terkekeh untuk mencairkan suasana.
            “Iya, kau tidak cocok. Kau lebih cocok menjadi Lily yang lincah dan aneh.” Sahutku berkata sejujurnya. “Jangan berubah! Tetaplah menjadi Lily yang kukenal. Kau mengerti kan?” Lanjutku lagi mencoba tersenyum.
            Bukan jawaban yang kudapat, melainkan pelukan yang kuterima dan aku pun membalasnya. Hanya saja pelukan ini tidak biasa. Erat, erat sekali! Seperti dia tidak rela melepasku meski hanya hitungan detik. Aku pun tak ingin bertanya mengapa dia seperti ini karena aku yakin dia tak akan menjawabnya. Maksudnya, tidak untuk sekarang.
            “Shinshin…” Panggilnya setelah melepaskan pelukannya. “Aku ingin kau berubah. Aku ingin kau menjadi Shinshin yang bersahabat dengan hidup dan keadaan. Bukan Shinshin yang dingin, pendiam, apalagi membenci sekelilingnya. Kau mau kan Shinshin? Kau harus mau!” Ujarnya dengan nada suara yang lemah.
            “Kalau aku tidak mau?” Tantangku.
            “Aku akan mengacuhkanmu seperti kau mengacuhkan segalanya.” Tegasnya setelah melepaskan pelukannya.
            “Coba saja!” Sahutku tak kalah tegas yang sebenarnya hanya pura-pura saja. Karena tidak ada jawaban, akhirnya aku beranjak beberapa langkah meninggalkannya untuk mendapat responnya.
            “Shinshin…, mengapa pergi? Ayolah.., sampai kapan kau keras kepala seperti ini? Ketika banyak orang membencimu, bukan berarti kau membenci semua orang dan kehidupan ini kan?” Eluhnya seraya menghampiriku dan meraih tanganku meski aku masih tetap berjalan.
            “Kepala memang keras kan? Apa ada kepala yang lunak?”
            “Kau masih saja menjengkelkan. Lebih menjengkelkan dari yang kubayangkan! Mau tidak mau kau tetap harus mau.” Paksanya yang terus mengikutiku. Sejujurnya aku senang membuatnya kesal. Semakin ia kesal semakin ia lucu di mataku.
            Namun, akhirnya aku menyadari jika senja itu adalah terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar suaranya. Hari demi hari, pekan demi pekan, bahkan bulan demi bulan sudah kulalui untuk mencarinya. Tapi tak seorang pun yang bisa menjawabku.
            “Shin, Lily pergi dan belum kembali. Kau pulang saja dan beristirahatlah. Lily pasti tidak suka melihatmu khawatir seperti ini.”
            Hanya jawaban itu yang selalu kudapat dari saudara Lily. Dia berusaha menenangkanku, tapi raut wajahnya tak dapat membohongiku. Dia tampak menyembunyikan sesuatu. Namun, aku tidak tahu apa itu?
            “LILLLLYYYY……! KAU DI MANAAA????” Teriakku seperti orang gila. Namun, tak ada jawaban. Lagi dan lagi hanya terdengar deburan ombak dan tiupan angin. Yah, lagi dan lagi hanya terlihat surya yang tenggelam dan menghadirkan warna jingga yang semburat di langit.
            “Hiks.. hiks..” Aku masih berdiri sambil terisak menyapu sekelilingku dengan pandangan dan berharap aku akan menemukannya. Seiring air mata yang makin membasahi pipiku, aku bertanya dalam hati. “Mengapa langit begitu tega? Menghadirkan seseorang yang menyayangiku lalu menjauhkannya lagi.”
            “Shinshin…” Aku menunduk dan memukul keningku. Aku mulai berhalusinasi karena terlalu merindukannya.
            “Shinshin…” Sepertinya aku mulai gila. Tapi suara itu begitu jelas. Itu suara Lily.
            “Aku di sini. Tepat di belakangmu. Aku bersamamu, Shinshin.” Ucapnya lagi dengan nada yang lemah. Aku belum gila karena aku benar-benar mendengarnya.
            Aku segera membalikkan tubuhku untuk meyakinkan jika itu memang suara Lily, tapi terlambat. Seseorang telah memelukku dari belakang. Aku yakin jika yang memelukku adalah Lily. Dia pasti Lily.
            “Shinshin.., aku datang. Maaf, membuatmu khawatir.” Ujarnya lagi dengan suara yang lemah bahkan nyaris tidak terdengar.
            “Mengapa kau pergi?” Tanyaku singkat menahan tangis. Entah aku harus sedih karena kondisinya atau bahagia karena dia kembali. Tiba-tiba aku merasa punggungku basah. Mungkinkah dia menangis? Aku tak pernah melihatnya menangis bahkan sekedar melihat matanya berkaca-kaca.
            Akhirnya Lily melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhku. Ini lah pertama kali aku melihatnya menitikkan air mata meski bibirnya tetap tersenyum. Dia benar-benar terlihat lemah. Matanya yang cekung, bibir yang pucat, dan tubuhnya sangat kurus. Seperti tengkorak yang hanya terbungkus kulit.
            “Kau sangat merindukanku kan?” Aku mengangguk dan air mataku pun akhirnya mengalir. “Jangan menangis, Shinshin!”
            Kami pun duduk menikmati sisa-sisa senja di pesisir. Awalnya aku menolak dan ingin membawanya ke rumah sakit karena kondisinya sangat lemah, tapi dia justru memaksa untuk tetap di sini.
            “Mereka membenciku. Mereka menghindari dan menjauhiku sejauh mungkin. Apa salah aku ingin memiliki sahabat dalam hidupku meski aku tak sama dengan mereka? Apa salah aku ingin tertawa bersama mereka meski kami beda?” Selorohnya padaku sambil terisak. Aku hanya diam membatu tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ternyata banyak hal yang tidak kuketahui tentang dirinya.  
“Sahabat macam apa aku ini?”
            “Saudaraku mengetahui apa yang kualami dan membawaku ke tempat yang tenang ini. Tempat yang sangat indah dengan harapan aku akan memulai hidup yang baru. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu, baru aku menyadari jika banyak sekali kebahagiaan yang aku lewatkan dengan tangisan.” Ucapnya lagi. Dan tentunya aku masih tidak mengerti apa yang dikatakannya.           
            “Shinshin…”
            BRRUUKK! Aku menarik tangannya dan membenamkan wajahnya dalam dekapanku. “Jangan katakan lagi! Cukup jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi padamu?”
            “Aku mengidap kanker paru-paru.”
            DEG! Sebuah pukulan menghantam jantungku setelah mendengar apa yang diucapnya. Tak pernah terbesit olehku akan apa yang menimpa sahabatku ini. Mungkinkah ini alasan mengapa sepupunya selalu mencoba menghindar dariku? Inikah alasan Lily pergi sekian lamanya meninggalkanku?
            “Shinshin.., kau tidak membenciku kan? Kau tidak akan menjauhiku seperti yang lain karena aku orang yang berpenyakit kan?” Tanyanya yang kini benar-benar diiringi oleh tangisan. “Kau akan tetap menjadi sahabatku kan, Shinshin?”
            Aku melepaskan pelukanku untuk menatapnya dalam-dalam. Kuusapkan tanganku untuk menghapus air matanya. “Itu pertanyaan bodoh yang pernah ada. Kau lihat? Aku masih di sini. Selamanya bersamamu.” Jawabku mencoba tersenyum meski air mataku bersiap untuk mengalir.
            “Bangun!” Pintaku  membantunya bangkit. “Aku harus membawamu ke rumah sakit.”
            “Aku tidak mau. Aku tidak suka berada di sana.”
            “Kali ini aku tak akan menurutimu.” Tegasku sambil meraih lengan dan pundaknya untuk mengajaknya beranjak.
            “Shin, aku mohon. Aku tetap ingin di sini.”
            “Senja sudah pergi.”
            “Belum, senja belum pergi. Sekalipun sudah pergi, tapi kita masih di sini.”
            Aku terpaku menatapnya. Sorotan matanya menunjukkan jika ia benar-benar masih ingin di sini meski ia tahu jika tetap di sini maka akan berakibat buruk.
            “Shin, aku mohon padamu. Ini terakhirkalinya aku memohon. Aku janji.” Paksanya sambil memelukku.
            Pandanganku teralih pada sesosok yang berdiri tidak jauh dari kami. Sosok yang tidak asing, sepupu Lily. Entah sejak kapan dia berdiri di sana. Dia hanya mengangguk-angguk pelan dan beralirkan air mata kepadaku. Aku pun mengerti.
            Aku membalas pelukan Lily dengan erat. “Aku menyayangimu, Ly. Kau orang yang membawa kedamaian dalam hidupku. Kau adalah alasan bagiku untuk tetap mencintai kehidupan. Hiks, aku sangat menyayangimu.” Isakku.
            “Aku pun begitu. Kau tahu? Aku ingin kehidupan keduaku bersamamu. Aku.., aku ingin kita terlahir dengan sosok yang berbeda. Karena.. kau.., pantas.. dicintai.” Ujarnya terbata-bata.
            “Jangan bicara lagi!” Pintaku lirih. Aku merasa pundakku teramat basah. Basah karena air matanya.
            “Aku.., menunggumu.. karena aku.. ingin kehidupan.. kedua kita. Maafkan.. aku, Shinshin. Ma..af..!” Ucapnya lagi.
            Tangan yang memelukku dengan erat akhirnya terlepas. Dan aku jatuh bertekuk lutut menahan tubuhnya yang masih dalam dekapanku. Dia pergi! Ya, dia meninggal dalam pelukanku. Dia pergi bersama senja dan meninggalkanku sendiri.
            “Tunggu aku di sana, Ly!” Bisikku pada telinganya yang aku tahu jika ia tak bisa mendengarku lagi.
            “Kau juga pantas dicintai dan dihargai.”
*****
            “Kau sama sepertinya. Kau tahu mengapa?” Aku terdiam sejenak memandang boneka yang pernah dibelikan Lily untukku. “Kalian sama-sama tidak bisa berhenti tersenyum padaku.” Ujarku lalu terkekeh.
            Kutebarkan pandanganku pada pemandangan yang nyaris tak pernah berbeda tiap harinya. Tapi aku tak pernah bosan memandangnya. Karena senja di kaki langit barat ini sangat indah adanya.
            “Shinzou, sudah waktunya kita pulang!” Ajakku sambil membawa boneka itu dalam pelukanku dan meninggalkan pesisir.

Kamis, 29 Agustus 2013

Preman Melankolis

Pagi yang cerah menemani aktivitas sepasang suami-istri yang tengah asik menyiapkan sarapan untuk dua belas putri mereka. Anak apa kebo? Mulai dari menanak nasi, menumis sayur, menggoreng lauk, sampai menggiling sambel.
Saat makanan tengah dihidangkan, tiba-tiba pipih anak kedelapan datang sambil menjerit.
            “Bundddaaaaaaa”
            “Ada apa sayang? Pagi-pagi kok teriak-teriak?” Tanya Bunda.
            “Kwaciku direbut ama kak shin Bunda…” adu pipih pada Bunda.
            “Loh kenapa di rebut?” Tanya Bunda lagi. Pipih hanya menggeleng dengan memasang wajah cemberut. “Shiiinnnnn….” Panggil Bunda pada shin anak ketujuh.
            “Iya Bunda..!” jawab shin seraya menghampiri Bunda, ayah, dan pipih.
            “Kamu apain adekmu ini?” Tanya ayah dengan nada meninggi.
            “Minta kwaci aja kok yah..”
            “Minta apa ngerebut??” sahut pipih nyolot.
            “Eh, kan tadi kakak mintanya baik-baik. Kamu aja yang pelit! Coba kalo gak pelit, kakak kan gak bakal ngerebut dari kamu.” Jawab shin tak ingin mengalah.
            Mimih si sulung bersama Mimo, Minnie dan Mickey yang baru datang langsung duduk lalu mengambil piring dan tidak ambil pusing akan perdebatan Shin dan Pipih. Diantara anak-anak yang lain, Mimih, Minnie, dan Mickey adalah anak paling cool dan membosankan. Berbeda dengan adik-adik mereka yang bandel terutama Shin.
            “Masalah kwaci aja heboh.” sela Minnie lalu meneguk teh hangat.
            “Udah lah.., maklum anak kecil.” Celetuk Mimih seraya mengambil nasi.
            “Kalian tuh anak kecil! Bunda ama ayah belum makan, kalian udah asik sendiri.” Balas Shin membentak kakak-kakaknya.
            Mickey tidak terima dikatakan anak kecil oleh adiknya. Ia memukul meja lalu berdiri, tapi Ayyi datang dan menahan Mickey. “Sabar bro.., namanya juga preman kafe. ” ledek Ayyi. Mickey pun duduk kembali.
            “Heh, apa maksudmu bilang aku preman kafe? Ngajak berantem?” gertak Shin pada Ayyi.
            “Nah tuh preman pake ngajak-ngajak berantem.” Ledek Ayyi semakin menjadi.
            Mendengar perdebatan anak-anaknya, Bunda mulai hilang kesabaran dengan tingkah anak-anaknya. “Udaaahhh…., pagi-pagi jangan ribut! Kalau kalian masih mau ribut, mending gak usah makan semuanya!” ancam Bunda.
            “Eitss.., jangan gitu lah Bunda. Sabar hadapin anak-anak!” nasehat ayah mengelus punggung Bunda untuk menenangkan amarah Bunda. “Ayo duduk semua! Kita sarapan..” pinta ayah seraya duduk. “Oh iya, Shin.., ayo panggil kakakmu bubu sama adek-adek kamu!” perintah ayah pada Shin.
            “Iya ayah..” jawab Shin singkat lalu beranjak.
            “Gitu kek, sekali-kali nurut!” gumam Mimo.
            “Mimooo…” tegur Bunda. Mimo langsung menunduk.

*****

            Usai bersarapan, sepasang suami-istri mengantarkan anak-anak mereka sampai di depan pintu gerbang rumah. Mulai dari Mimih yang bersalaman pada ayah dan Bunda untuk berangkat kuliah kemudian Mimo, Minnie, Mickey, Bubu, Ayyi, dan Shin yang memilih bekerja setelah lulus sekolah, hingga Pipih, Frilly, Ria, Atan, dan Nichi yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
            Sosok demi sosok si anak mulai sirna dari pandangan sepasang suami istri itu. “Heran ya, punya anak kok bandel semua??” eluh sang Bunda.
            “Bandel-bandel gitu juga anakmu.” Seloroh ayah.
            “Anakmu juga, Yah..” sentak Bunda lalu beranjak.
            “Oh iya ya.., kan anakku juga!” ucap ayah menggaruk-garuk kepala sambil menggeleng pelan.

*****

            Jam istirahat Shin akhirnya tiba. Untuk makan siang, Shin lebih memilih makan di rumah dari pada membeli. “Hemat.” Begitulah katanya. Entah hemat atau pelit untuk diri sendiri.
            “Bunda belum masak, kebetulan ayah juga udah berangkat kerja satu jam yang lalu. Hanya ada nasi. Jadi lauknya beli aja di warung depan!” ujar Bunda.
            “Gak mau. Mau masak sendiri aja. Irit!” jawabnya menolak sambil mengambil keranjang yang berisikan bumbu-bumbu dapur.
            Bunda hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. “Ya udah.., Bunda mau tidur dulu.” Ucap Bunda.
            “Iya” jawab Shin singkat sebelum akhirnya Bunda pergi meninggalkan dapur.
            Shin pun melanjutkan aktivitasnya. Mulai dari mengupas bawang, memisahkan ayam dari tulang, lalu menggoreng. Dan selama menunggu ayam matang, Shin membuat saos favoritnya, saos tiram pedas hasil eksperimennya sendiri.
Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan masakannya. ‘Ayam Tepung Saos Tiram’ Begitulah julukan Shin untuk makanannya. Tampak seulas senyum kepuasan dalam hatinya pada masakannya itu.
“Kakak…” panggil Ria melas.
“Apa?” Tanya Shin singkat.
“Ria laper kak..”
“Ya udah.., makan ama kakak aja. Kakak masak banyak kok! Tapi saosnya pedas. Mau?” tawar Shin mengangkat alis.
“….” Ria menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.
Tanpa banyak bicara, Shin mengambilkan nasi untuk adiknya dan tentu saja untuk dirinya juga. Mereka pun makan dengan tenang. Dan disela-sela ketenangan itu, Atan datang sambil berlarian menghampiri Shin.
“Kak Shin.., aku minta pendapat nih..”
“Apa?” lagi-lagi jawab Shin singkat.
“Dengerin ya..” pinta Atan. “Air mata menyumbat dada sampai aku tenggelam.., berharap kasih kan kembali menyelam ke dasar paling dalam tuk membawaku pada ke alam tanpa malam yang kelam .” ucap Atan akan syair yang dibacanya.
Shin tersenyum lebar. “Kamu lagi sakit hati ya? Ditinggalin pacar?” Tanya Shin.
“Kok kakak tau sih?” Tanya Atan mengerutkan keningnya.
“Hahahahah…, dari kalimatmu tadi aja udah ketahuan.” Jawab Shin. “Hari gini galau? Kapan bahagianya?” ledek Shin pada adiknya lalu lanjut makan.
Atan tersenyum kecil kemudian pergi tanpa berkata apa pun. Ria yang melihat kepergian Atan, merasa iba. “Kakak apaan sih? Atan kan lagi sedih kak. Kok malah ditertawain?” tegur Ria. “Tega ihh..” ujar Ria lalu ikut pergi meninggalkan Shin.
“Loh kok pada cabut sih?” Tanya Shin lirih. “Bodoh ah.. makan dulu.” Ucap Shin acuh.
“Parah loe! Adek lagi sedih, malah ditertawain.” Seloroh Bubu yang tiba-tiba datang dan ikut makan.
“Kamu sendiri napa di sini? Bukannya hibur.”
“Makan dulu baru hibur. Hehe…” jawab Bubu tertawa kecil.
“Alesan mulu… huuhhhhh” celetuk Shin.

*****

            Senja tiba dan langit semakin gelap. Masa-masa yang amat Shin sukai, senja. Tiada hari tanpa menikmati senja baginya. “Aku merasa hidup kala senja tiba” Begitulah katanya.
            “Ngapain itu bocah-bocah? Pasti lagi gosip!” tebak Shin melihat Frilly, Ria, dan Nichi asik mengobrol. Shin pun berjalan menghampiri adik-adiknya yang duduk di pekarangan. “Heh, gosip apa hari ini?”
            “Apaan sih kak? Siapa yang gosip coba?” jawab Ria dengan suara manjanya.
            “Iya nih.. datang-datang sok tau.” Sahut Nichi manyun.
            “Terus? Kalo gak gosip ngapain coba kalian ngobrolnya sambil bisik-bisik?” Tanya Shin ingin tau.
            “Tuh liatin Atan. Seharian diem mulu. Biasanya dia selalu ceria. Gak tau habis kesambet apa kok tiba-tiba murung.” Jelas Frilly lalu menyandarkan kepalanya ke pundak Ria. “Kasian ya..” lanjut Frilly dengan tatapan sendu.
            Shin pun melihat Atan yang sedang duduk seperti patung di pinggir kolam ikan. Melihat situasi seperti itu membuat Shin merasa bersalah pada adiknya, Atan. Ia menarik nafas panjang lalu berjalan mendatangi Atan.
            “Menurut kamu hidup seperti ikan-ikan yang di kolam itu asik gak?” Tanya Shin seraya duduk di samping Atan.
            “….” Atan menggeleng.
            “Kenapa?”
            “Gak bebas.”
            “Kalo gitu napa kamu menikmati ketidakbebasan itu?”
            Atan langsung menatap Shin karena tidak mengerti akan ucapan Shin. Shin hanya tersenyum menatap ikan-ikan yang berenang di kolam tanpa membalas pandangan adiknya.
            “Ikan-ikan ini gak bebas karena dibelenggu. Kalo kamu? Kamu membelenggu dirimu sendiri.” Jelas Shin. Atan menunduk lalu membuang muka.
            “…..”
            “Gak satu orang pun yang mau menderita, tapi di setiap ada masalah mereka lebih banyak menangisi, meratapi, memohon-mohon, tanpa bertindak. Emangnya masalah bisa kelar kalau didiemin? Gak kan??” ujar Shin dengan bijak.
            “Saran kakak apa?”
            “Tegaslah dalam hidupmu!” jawab Shin dengan mantap.
            “Caranya?”
            “Hapus cinta palsu dan temukan cinta sejati yang layak dimiliki. Kalo emang sayang gak mungkin kan dia ninggalin kamu?”
            “Dia ninggalin aku demi cewek lain.”ucap Atan lemas.
            “Makanya…, kamu gak pantas sedih untuk orang yang tengah bahagia dengan orang lain karena dia gak mikirin perasaan kamu. Dan satu lagi, perempuan yang tulus hanya layak bagi pria yang hebat.” Ucap Shin penuh arti.
            “Ngelupainnya gimana kak?”
            “Dengan cara tidak dipikirkan! Karena semakin mencoba dilupakan semakin susah terlupakan.”
            “Gitu ya kak?”
            “Yups” jawab Shin mengangguk mantap.
            Atan manggut-manggut. Ia menarik nafas panjang dan menegakkan punggungnya. Sepertinya ia mulai mengerti dan mencoba membangun pribadi yang lebih kuat.
            “Wah kayaknya si preman harus diganti nama nih…” ucap seseorang tiba-tiba. Shin dan Atan langsung menoleh asal suara itu dan tampak Ayyi sudah berdiri di belakang mereka. “Kaget ya tiba-tiba aku di sini?” lanjutnya dengan senyum jailnya.
            “Biasa aja tuh..” jawab Shin ketus.
            “Hahahah…. Preman melankolis cocok gak ya?” goda Ayyi.
            “Hmm.., Kak thanks sarannya. Aku mau masuk dulu. Takut jadi korban peperangan kalian. Hihih….” Seloroh Atan yang langsung bergegas pergi.
            “Hahahah…. Kalo perlu kunci semua pintu biar gak ada yang jadi korban.” Gurau Ayyi pada Atan.
            “Korban? Emang kita mau ngapain? Huh..” ucap Shin sok acuh kemudian pergi meninggalkan Ayyi dengan jalan yang berlagak.
            “Wahahaha… udah katro, gaya selangit! Dasar preman melankolis.” Ledek Ayyi yang tak pernah hentinya menggoda Shin. Mungkin bagi Ayyi, Shin orang yang paling asik untuk diganggu. Atau entahlah…

*****

            Di sela-sela ketenangan saat sarapan, Mimih membuka pembicaraan. “Bunda.., Ayah…, Mimih ke kampusnya sekarang minta jemput boleh gak?” Tanya Mimih dengan manja setengah takut.
            Adik-adiknya yang asik makan sontak kaget dengan ucapan Mimih. “Kok gitu sih? Yang sekolah aja berangkat sendiri. Kak Mimih yang kuliah malah minta dianterin. Gak adil ahhh” protes Nichi tidak terima.
            “Loh kenapa gitu, Mih??” Tanya Bunda.
            “Kemarin waktu Mimih pulang ngeliat preman-preman berbadan kekar, tatoan, pake mabok lagi di persimpangan. Kan mimih takut kalo ntar diapa-apain ama mereka.” Jelas Mimih.
            “Kalo kemarin berani masak sekarang gak berani?” sahut Ayah.
            “Kemarin kan kebetulan rame dan banyak temen cowok jadi berani.”
            “…..” Bunda menghela nafas. “Gimana, Yah?” Tanya bunda pada Ayah.
            “Preman kekar yang bertato kan bukan berarti hebat dan harus ditakuti.” Sahut Shin yang mengundang seluruh perhatian. “Biar aku aja yang jemput Mimih pulang kuliah. Kan jam pulang kerja sama kayak jam pulang kuliahnya Mimih. Gimana?” usul Shin memberanikan diri.
            “Aku ikut! Ayyi ama Shin kan satu tempat kerja.” Timpal Ayyi.
            “Hmmm….., mending Ayah cari bodyguard aja. Biar keselamatan kalian terjamin.” Tolak Ayah yang tidak dilihatkan.
            Shin dan Ayyi merasa tersinggung karena secara tidak langsung tawaran mereka ditolak. “Oohh kalo yang antar aku ama Ayyi gak terjamin keselamatannya gitu??” ucap Shin dengan nada meninggi.
            “Ayah remehin kami?” Tanya Ayyi.
            “Aaaarrrggghhhhhhh….. napa jadi kalian yang ribut sih? Mimih gak mau tau, pokoknya Mimih pulang minta dijemput. Kalo gak ada yang jemput, Mimih nginep di kampus dan gak pulang sekalian.” Ancam Mimih.
            “Yakin tuuhhhh?” goda Bubu sambil berkedip-kedip.
            “Uuuhhhhhh” erang Mimih lalu mengambil tasnya dan pergi.
            “Loh loh loh, kok main pergi gitu?” Tanya Bunda sedikit panik. “Gimana tuh, Yah??”
            “Tenang aja.., Shin ama Ayyi bakal jemput Mimih kok Bunda.” Ujar Shin mencoba menenangkan Bunda.
            Ayyi manggut-manggut membenarkan ucapan Shin.
            Pipih yang masih kesal pada Shin karena persoalan kwaci kemarin pun bangkit dari duduk dan berpamitan untuk berangkat sekolah. “Sok hebat!” ketus Pipih seraya melangkah pergi. Mimo, Minnie, Mickey, Bubu, Ria, Atan, Nichi, dan Frilly bertatapan satu sama lain.

*****

            “Kamu sama Pipih belum baikan?” Tanya Ayyi pada Shin saat meninggal tempat kerja.
            “Bodoh.” Sahut Shin jutek.
            “Judes amet… aku kan tanya baik-baik. Lagian Pipih kan adekmu. Napa gak ngajak baikan aja?” saran Ayyi.
            “Bawel ya..! Dia kan adekmu juga. Kenapa gak kamu aja yang suruh dia minta maaf?” balas Shin emosi.
            “Yah kan aku gak tau permasalahan kalian. Entar ngiranya ikut campur.”
            “Kalo gak mau bantu mending diem aja.” Tegas Shin.
            Ayyi pun diem seribu kata. Tak ingin berdebat lagi dengan adiknya. Entah mengalah atau takut yang jelas Ayyi tidak ingin banyak berkomentar lagi tentang perdebatan kecil antara Shin dan Pipih.
            Sepanjang perjalanan menuju kampus Mimih, Shin dan Ayyi tidak berbicara sama sekali hingga terdengar suara orang berteriak minta tolong yang memecahkan keheningan.
            “TOLOOONNNNGGGG…..” jerit seseorang yang sangat jelas bahwa suara tersebut adalah suara perempuan.
            Shin menyenggol lengan Ayyi. Ayyi mengangguk mengerti. Mereka segera berlari mencari asal suara itu. Dan benar saja, Mimih dan seorang teman perempuannya tengah dikepung oleh tiga preman yang sedang mabuk. Preman-preman yang mungkin dimaksud oleh Mimih. Yang satu berbadan cukup gemuk dan bertato, yang satunya berbadan kurus tapi bermuka garang, dan yang terakhir berbadan kekar dan berkumis tebal.
            Dengan cepat Shin berlari dan tak tanggung-tanggung langsung menendang alat vital preman yang bertubuh gemuk hingga jatuh terkapar. Lalu Ayyi yang dengan kerasnya menghantam preman bertubuh kekar dengan batu tepat di kepala yang menyebabkan preman itu jatuh karena tak mampu mengendalikan dirinya.
            Tiba-tiba seseorang datang dan menendang punggung preman yang menyandra Mimih dan teman perempuannya hingga tersungkur. “Pipih..” sebut Mimih ketika melihat bahwa orang yang datang itu adalah Pipih, adiknya. Tanpa banyak bicara, Pipih membawa Mimih dan temannya ke tempat yang aman.     
“Kakak gak kenapa-napa kan?” tanya Pipih khawatir.
            “MIMIIIHHHHH….” Teriak teman Mimih ketika melihat preman yang berkumis tebal berlari sambil membawah botol bir yang kosong untuk menghantam kearah Mimih dan Pipih.
            Mimih langsung memeluk Pipih dan “PYYAAAAARRRRRRR…………” botol itu pecah karena kuatnya hantaman yang berbenturan dengan lengan kiri Shin yang menghadang. Alhasil lengan Shin terluka dan berdarah.
            “Bedebah..” pekik Ayyi dan “BBUUUKKKK….” Ayyi mengayunkan kayu dengan kencang tepat pada tengkuk preman yang berusaha melukai saudaranya.
            “Hmmm…” Shin menghela nafas lega tapi rasa sakit mengalahkannya dan ia pun  terkulai tak sadarkan diri.

*****

            Waktu terus berjalan dan suasana hati yang harap-harap cemas berselimut di hati Bunda, Ayah, Mimih, dan adik-adiknya. Mereka menanti Shin terbangun dari pingsannya.
“Kalian pulang saja! Besok aku masuk siang jadi biar aku yang jaga kakak. Bunda dan Ayah juga harus istirahat.” Pinta Pipih pada keluarganya.
“Besok Mimih libur, jadi Mimih yang temani Pipih jagain Shin.” Timpal Mimih.
“Bunda tetap di sini. Biar Ayah dan lainnya aja yang pulang.” Tolak Bunda mengelus kening Shin.
“Tapi Ria mau jagain Kak Shin juga.” Sahut Ria mendekati tempat perbaringan Shin.
“Kita pulang aja dek, kan kamu besok harus sekolah.” Seloroh Bubu memeluk pundak Ria.
“Iya, Shin akan baik-baik aja kok. Dia kan preman melankolis.” Sela Ayyi yang sempat-sempatnya meledek Shin.
Mickey langsung mencubit lengan Ayyi yang membuat Ayyi memekik kesakitan. “Bukannya doain malah ngeledekin!” ucap Mickey memarahi Ayyi.
“Sudah-sudah.., yang di sini biar Bunda, Mimih, dan Pipih. Kita pulang dulu! Bagaimana?” ucap Ayah.
 “Iya.., kalian pulang dan istirahat. Besok harus kerja dan sekolah. Kalau Shin udah sadar, Bunda pasti kasih tau.” Ujar Bunda menimpali usulan Ayah.
Mimo, Minnie, Mickey, dan yang lain pun menurut. Mereka pulang bersama Ayah ke rumah. Tentu saja mereka sangat berharap cepat mendapat kabar baik.

*****

“Kalau ngantuk tidur aja, Pih.” Pinta Mimih membelai kepala adiknya dengan lembut. Pipih mengangguk lemah. Mungkin karena lelah. Pipih pun menyandarkan kepalanya di tepi ranjang perbaringan Shin. Mimih yang juga merasa capek, menyandarkan punggungnya ke kursi dan akhirnya terlelap pula.
Malam semakin larut. Bunda tiba-tiba terbangun dan didapati anak-anaknya telah pulas dalam tidur. Bunda sendiri tak mampu terlelap dalam tidur karena menanti Shin siuman.
Detik demi detik, menit demi menit, sampai Bunda melihat tanda-tanda Shin akan sadar. Secara perlahan Shin membuka matanya dan pandang sayu masih berselubung pada sudut pandangnya. Putih, putih, dan putih. Semua tampak putih dan tercium aroma yang sangat ia benci, aroma obat. “Pasti di rumah sakit!” pikirnya.
Shin mencoba menggerakkan kepalanya yang terasa berat dan dilihatnya Mimih dan Pipih yang tertidur dalam posisi duduk.
“Shin..!!!” panggil Bunda dengan senang. “Akhirnya kamu siuman juga sayang.” ujar Bunda yang tampak senang melihat Shin sadar dari pingsannya. Karena begitu senangnya, Bunda langsung memeluk dan mengecup kening Shin.
“Bunda…” panggil Shin dengan nada lemah.
“Iya Shin.., bunda di sini. Semuanya khawatirin kamu sayang.” Ujar Bunda yang tak hentinya membelai kepala Shin.
“Bunda, semuanya baik-baik aja kan?? Mimih, Ayyi, sama Pipih gimana? Mereka baik-baik aja kan?” ucap Shin panik walau tubuhnya masih lemas, terdengar dari suaranya.
“Semuanya baik-baik aja sayang. Kamu gak usah khawatir! Preman-preman itu juga udah ditangkap karena meresahkan warga setempat. Ini berkat keberanian kamu dan Ayyi. Bunda dan lainnya bangga sama kalian.” Ujar Bunda sekaligus memuji Shin dan Ayyi.
Shin tersenyum dan menghela nafas lega. Namun, senyumnya hilang ketika aroma obat-obatan menyengat dalam penciumannya. “Bunda, besok Shin mau pulang. Gak mau di sini! Boleh ya bunda…..” ucap Shin memohon untuk pulang walau kondisinya masih lemah.
“Kamu masih harus dirawat di sini. Belum boleh pulang. Sabar ya..” tutur Bunda.
“Tapi Bunda kan tau kalau Shin gak suka bau obat. Shin gak suka di rumah sakit! Lagian Shin hanya luka di tangan dan bentar lagi juga baikan! Boleh ya bunda…” rengek Shin yang membuat Mimih terbangun.
“Ssshhhhhh…… ribut sekali! Uuuuuhhhh………….” Erang Mimih sambil mengucek matanya. Dan ketika matanya menatap Shin yang telah siuman, seakan-akan daya penerangan dalam matanya naik drastis. “Shiiinnnnn……………………” panggil Mimih kegirangan.
“Kakak…” panggil Shin polos.
“Akhirnya…..! Muuacchh..” Mimih mengecup kening Shin. “Gimana keadaanmu Shin? Jangan banyak gerak ya. Beberapa hari lagi pasti sembuh.”
Shin menggeleng-geleng. “Pokoknya besok Shin mau pulang. Shin gak mau di sini lama-lama.” Bantah Shin.
“Ya gak bisa dong Shin. Kamu..”
“Kalau gak dibolehin pulang besok, Shin mau kabur aja.” Ancam Shin.
Bunda dan Mimih saling memandang. Tampak dari wajah mereka jika tengah kebingungan. Tidak tau harus berbuat apa karena Shin anak yang keras kepala. Dia bisa berbuat nekad dan melakukan apa saja yang dia mau.
Tiba-tiba Mimih tersenyum. Senyum yang memiliki maksud tersembunyi. Bunda melihat Mimih dan mengerutkan kening menandakan suatu pertanyaan.
“Ya udah besok siang kita pulang ya…” ucap Mimih tiba-tiba lalu tersenyum pada Bunda. Semakin membingungkan maksud Mimih itu.

*****

“Kakak.., maafin Pipih ya kak. Pipih egois! Padahal kakak hanya minta kwaci..”
“Udaahhh lupain aja dek. Kakak juga egois asal ngerebut. Maafin kakak ya dek.” Potong Shin meminta maaf pula.
Pipih mengantuk sambil tersenyum lalu menatap lengan Shin yang terbalut perban. “Pasti sakit sekali ya kak tangannya.” Ucap Pipih memasang wajah hibah.
“Aaahhh bentar lagi sakitnya juga udah hilang. Yang penting semuanya baik-baik aja.”
“KAKAAAKKKKKKKK” teriak seseorang dari luar. Ternyata Ria sambil membawa plastik yang berisikan buah-buahan! Dia tampak senang melihat Shin yang sudah siuman.
“Datang-datang main teriak-teriak aja. Gak tau orang kaget apa?” celetuk Pipih pada Ria.
“Biarin! Week….” Ejek Ria. “Kakak, cepet sembuh ya kak. Pokoknya waktu pulang ke rumah, kakak harus dalam keadaan sembuh total.” Ujar Ria sambil menaruh kantong plastik di meja kemudian memeluk Shin yang terkulai.
“Kakak pulangnya bentar lagi dek. Gak betah di rumah sakit lama-lama. ”
“Gak boleh! Kakak harus di rumah sakit sampe sembuh total. Gak boleh pulang apa pun itu alasannya.” Giliran Ria yang membantah.
“Tapi…”
“Gak ada tapi-tapian. Kalau masih keras kepala adek pulang nih sekarang juga! Gak mau peduli lagi ama kakak.” Ucap Ria pura-pura mengancam karena sebenarnya ini telah direncanakan.
“Tapi dek…”
Ria langsung melepaskan pelukannya lalu berjalan untuk meninggalkan ruangan tapi Shin langsung berkata “Iya iya dek, kakak gak pulang sekarang. Kakak tetap di sini sampe sembuh total tapi adek jangan acuh..” ucap Shin setengah menjerit.
Ria pun berhenti dan tersenyum puas. Akhirnya dia membalikkan badannya. “Kalau sampe bohong??” ucap Ria mencoba meyakinkan.
“Nggak dek, kakak gak bohong. Beneran kakak pulang kalau udah sembuh total.” Ujar Shin terpaksa lalu menghela nafas.
Dari dulu Shin hanya luluh pada Ria. Entah mengapa bisa seperti itu. Padahal Ria bukan anak bungsu. Bahkan Bunda dan Ayah tak mampu meluluhkan hati Shin yang keras. Hanya Ria satu-satunya yang bisa meluluhkan Shin.
“Jadi?? Gak jadi pulang nih?” sahut Mimih yang  sudah berdiri di depan pintu.
“Gak jadi kak. Mau di sini aja sampe sembuh total.” Kata Shin yang cukup membuat Mimih lega.
Pipih yang dari tadi diam tampak seperti orang kebingungan. “Preman kok melankolis??” ujar Pipih lirih.
“Apa kamu bilang?” sahut Shin.
“Eh gak bilang apa-apa kok kak. Heheh adek ke kamar mandi dulu ya.. hihi”

Pipih segera cabut dan Mimih datang menghampiri. “Preman kok melankolis! Jadinya preman melankolis deh! Hahahahah” ledek Mimih.